Miris! Indonesia Sudah Negara Kaya, Tapi 184,9 Juta Orang Masih Hidup di Bawah Rp130 Ribu Sehari

Sumber Data Word Bank
NEWS UPDATE
LIPUTAN
KPK .COM
P T .S U A R A W A R T A N U S A N T A R A
S W N
───────────────────────────────────

Kota Bogor, Jawa Barat || LiputanKPK.com
‎Status Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income) sejak 2022 ternyata belum sepenuhnya menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat di tingkat bawah. Minggu, 30/08/2026.

‎Data World Bank April 2026 mengungkap fakta mengejutkan. Sekitar 64,2 persen penduduk Indonesia atau 184,9 juta orang tercatat memiliki tingkat pengeluaran di bawah US$8,30 atau sekitar Rp130 ribu per orang per hari.

‎Angka tersebut terbilang tinggi jika dibandingkan dengan negara tetangga. Thailand tercatat hanya sekitar 10,1 persen, sedangkan Malaysia berada di kisaran 1 persen.

‎Data ini pun memunculkan pertanyaan besar: Jika Indonesia sudah masuk kelompok negara berpendapatan menengah atas, mengapa mayoritas penduduknya masih berada di bawah ambang pengeluaran tersebut?

‎Namun, ada hal penting yang perlu digarisbawahi. 64,2 persen bukan berarti 64,2 persen rakyat Indonesia secara resmi berstatus miskin.

‎World Bank dan BPS menggunakan indikator yang berbeda.

‎BPS mencatat tingkat kemiskinan Indonesia sebesar 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang. Angka tersebut dihitung berdasarkan garis kemiskinan nasional yang berada di kisaran Rp669 ribu per orang per bulan.

‎Sementara ambang US$8,30 per orang per hari yang digunakan World Bank merupakan indikator untuk membandingkan tingkat kesejahteraan dan konsumsi masyarakat di negara-negara berpendapatan menengah atas.

‎Artinya, masyarakat yang pengeluarannya berada di bawah US$8,30 per hari tidak otomatis masuk kategori miskin menurut definisi BPS.

‎Meski demikian, angka tersebut tetap memberikan sinyal bahwa persoalan ekonomi Indonesia bukan hanya soal kemiskinan formal.

‎Jutaan bahkan ratusan juta masyarakat masih menghadapi keterbatasan daya beli, meskipun Indonesia secara klasifikasi ekonomi telah naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas.

‎Kondisi tersebut memperlihatkan adanya pekerjaan besar bagi pemerintah untuk memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat. Peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja, produktivitas, pengendalian harga kebutuhan pokok hingga penguatan daya beli menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.

‎Indonesia boleh naik kelas secara statistik, tetapi kesejahteraan rakyat tidak cukup diukur dari status pendapatan negara.

‎Pertanyaan besarnya kini bukan sekedar apakah Indonesia sudah menjadi negara berpendapatan menengah atas, melainkan seberapa jauh peningkatan kelas ekonomi tersebut benar-benar terasa di kantong masyarakat.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *