Video Penganiayaan Pejompongan Diduga Di-Take Down! Komdigi & Meutya Hafid Disorot, Siapa Yang Takut Bukti Beredar?

Dokumentasi LiputanKPK.com
NEWS UPDATE
LIPUTAN
KPK .COM
P T .S U A R A W A R T A N U S A N T A R A
S W N
───────────────────────────────────

Kota Bogor, Jawa Barat || LiputanKPK.com
‎Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mendapat sorotan publik setelah beredarnya kabar mengenai video penganiayaan brutal di kawasan Pejompongan, Jakarta, pascademonstrasi di sekitar Gedung DPR RI. Senin, 31/08/2026.

‎Rekaman yang beredar di media sosial tersebut memperlihatkan aksi kekerasan terhadap sejumlah warga. Peristiwa itu disebut berkaitan dengan tewasnya Bambang Setiawan (59), seorang pedagang cermin sekaligus warga setempat, serta kekerasan yang dialami Fathur, siswa kelas 12.

‎Sorotan terhadap Komdigi mencuat setelah sejumlah pengguna media sosial mengklaim video tersebut telah diturunkan atau tidak lagi dapat diakses.

‎Kritik paling tajam antara lain disampaikan akun Threads @faridaindriastuti. Dalam unggahannya, akun tersebut mempertanyakan dugaan penurunan video yang disebut sebagai bukti kekerasan dan mempertanyakan keberpihakan Menkomdigi dalam menangani konten tersebut.

‎Namun, tudingan bahwa penurunan video merupakan perintah pemerintah juga mendapat bantahan dari sejumlah netizen.

‎Akun @bismillahyuk_ yang mengaku pernah bekerja di Meta menyebut penarikan konten tersebut dilakukan oleh pihak platform, bukan atas perintah Komdigi. Dugaan ini mengarah pada kemungkinan video diturunkan secara otomatis karena memuat konten kekerasan yang melanggar kebijakan platform.

‎Di sisi lain, sebagian masyarakat menilai penghapusan rekaman kekerasan justru diperlukan. Selain pertimbangan kebijakan platform, beredarnya video secara berulang dinilai berpotensi menambah trauma bagi keluarga korban maupun masyarakat yang menyaksikan kejadian tersebut.

‎Bambang Disebut Bukan Pendemo

‎Bambang Setiawan disebut bukan bagian dari massa demonstrasi. Ia dikabarkan keluar dari rumah untuk mengecek lapaknya pada Jumat dini hari.

‎Namun, Bambang kemudian ditemukan dalam kondisi telah mengalami penganiayaan. Ia akhirnya meninggal dunia setelah menjadi korban kekerasan yang diduga dilakukan sekelompok pria mengenakan pakaian berwarna hitam.

‎Kasus serupa juga menimpa Fathur. Siswa kelas 12 tersebut disebut diseret dari lingkungan rumahnya dan mengalami kekerasan. Ia sempat dibawa ke Polda Metro Jaya sebelum akhirnya dipulangkan.

‎Dalam perkembangan kasus tersebut, muncul tudingan dari warga mengenai dugaan keterlibatan organisasi masyarakat (ormas) GRIB Jaya.

‎Pimpinan GRIB Jaya telah membantah keras tudingan tersebut dan menyebut narasi mengenai keterlibatan organisasinya sebagai hoaks.

‎Polisi dan Komnas HAM Masih Menyelidiki

‎Sementara itu, proses penyelidikan terhadap peristiwa kekerasan tersebut masih berlangsung. Polisi dan Komnas HAM disebut tengah mendalami rangkaian kejadian untuk mengungkap fakta sebenarnya, termasuk identitas pihak-pihak yang terlibat.

‎Hingga kini, pelaku pengeroyokan belum diumumkan secara terbuka kepada publik.

‎Kontroversi mengenai video yang hilang dari sejumlah platform pun menambah perhatian masyarakat terhadap kasus tersebut. Publik kini menunggu kejelasan mengenai dua hal sekaligus: siapa pelaku kekerasan yang menyebabkan korban meninggal dunia dan apakah penurunan video tersebut merupakan tindakan otomatis platform berdasarkan kebijakan konten, atau terdapat permintaan dari pihak tertentu.

‎Komdigi dan Meutya Hafid pun menjadi sorotan di tengah tuntutan publik agar penanganan informasi mengenai kasus tersebut dilakukan secara transparan, tanpa mengganggu proses penyidikan maupun hak keluarga korban.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *