Tapian Nauli, Tapanuli Selatan, liputankpk.com — Upaya seorang warga, Asa Z. Hulu, untuk mendorong kejelasan kasus hilangnya seorang warga Tapian Nauli bernama Abdul Rahma Giawa, justru berujung pada dugaan intimidasi dan pemberian informasi yang dinilainya tidak transparan oleh sejumlah oknum aparat kelurahan.
Peristiwa ini bermula dari beredarnya pesan singkat (SMS) kepada Lurah Tapian Nauli berinisial S.TB pada tahun 2022, yang berisi laporan bahwa telah terjadi dugaan pembunuhan di kawasan Setia, Tapian Nauli. SMS tersebut dikirim dari nomor tak dikenal dan menyebut dua orang berinisial Y.W dan S.H sebagai pihak yang diduga terlibat.
Salah satu terduga dalam SMS tersebut, S.H, dalam rekaman video yang kini tersebar terbatas, mengakui bahwa dirinya terlibat dalam penghilangan korban. Ia juga mengaku mendapat perintah dari pihak tertentu. Namun, seluruh informasi ini masih bersifat dugaan dan menunggu pemeriksaan resmi aparat penegak hukum.
Menurut penuturan Asa, selama lebih dari satu minggu setelah informasi tersebut mencuat, tidak ada langkah tegas dari pihak pemerintah kelurahan untuk menelusuri laporan itu, meski sudah menjadi pembicaraan luas masyarakat Dolok Tapan.
Masyarakat mempertanyakan mengapa laporan awal terkait dugaan hilangnya warga tidak segera ditindaklanjuti. Apalagi kondisi keluarga korban sebelumnya disebut kerap terlibat konflik rumah tangga yang sempat ditangani pihak berwenang.
Melihat keresahan warga, Asa kemudian mengunggah ulang SMS tersebut ke Grup WhatsApp Kelurahan Tapian Nauli. Ia mengaku langkah itu dilakukan agar pemerintah kelurahan segera merespons.
“Tujuan saya hanya agar tidak ada yang ditutupi. Masyarakat butuh kejelasan,” ujar Asa.
Beberapa hari setelah unggahan itu, Asa dipanggil ke kantor kelurahan untuk memberikan penjelasan. Ia mengaku bukan hanya ditanyai maksudnya, tetapi juga mendapat tekanan dari oknum yang hadir, termasuk seorang petugas keamanan kelurahan.
Menurut Asa, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepadanya terkesan ingin membungkam upayanya mencari kebenaran.
“Saya merasa ditekan agar berhenti ikut campur. Padahal saya hanya ingin kebenaran ditegakkan,” ujarnya.
Dalam mediasi itu, lurah membacakan surat pernyataan dari pihak keluarga yang menyatakan bahwa korban dinyatakan hilang dan meminta masyarakat melapor jika melihat keberadaan korban.
Namun, Asa menyebut ada kejanggalan dalam penyampaian surat tersebut. Ia menduga surat itu digunakan untuk mengaburkan informasi awal yang telah beredar.
“Saya merasa diarahkan pada informasi yang tidak sesuai. Seolah-olah ada upaya menutup sesuatu,” katanya.
Saat Asa kemudian menyampaikan informasi tambahan berupa rekaman pernyataan S.H kepada pihak keluarga, RT, dan lurah, tanggapan yang ia terima justru berbanding terbalik dari harapannya.
Ia mengaku abaikan, tidak ditanggapi, bahkan dianggap pembuat masalah.
Dalam rekaman video yang diterima Asa, pelaku S.H menyebut beberapa inisial nama yang diduga mengetahui peristiwa tersebut. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari aparat penegak hukum.
Asa menilai, bila benar terdapat pengaburan informasi, hal ini dapat merugikan masyarakat dan menghambat proses pencarian kebenaran.
Asa: “Saya Merasa Ditipu dan Diintimidasi”
Asa menyatakan bahwa dirinya menolak dugaan rekayasa informasi yang bertujuan menutupi kejadian sebenarnya. Ia berharap aparat penegak hukum segera melakukan pemeriksaan mendalam.
“Saya merasa ditipu, diintimidasi, dan diarahkan pada informasi palsu. Saya hanya ingin keadilan ditegakkan,” tegasnya.
Asa meminta aparat penegak hukum memeriksa:
- dugaan intimidasi terhadap dirinya
- dugaan rekayasa surat pernyataan hilang
- dugaan penutupan informasi terkait hilangnya korban
- dan pernyataan dari individu-individu yang disebut dalam rekaman video pelaku
Ia menegaskan bahwa seluruh proses harus dilakukan secara hukum dan transparan, tanpa tekanan pada masyarakat yang berupaya membantu pengungkapan kebenaran.
Hingga berita ini dimuat, pihak kelurahan, keluarga korban, dan pihak terkait lainnya belum memberikan penjelasan resmi atas dugaan-dugaan tersebut. Team












