Setelah Dilaporkan Warga, Lurah Tapian Nauli Diduga Tawarkan “Barter Informasi” Terkait Kasus Pembunuhan 2022

NEWS UPDATE
LIPUTAN
KPK .COM
P T .S U A R A W A R T A N U S A N T A R A
S W N
───────────────────────────────────

Tapian Nauli, Tapanuli Selatan, liputankpk.com — Kasus dugaan hilangnya warga bernama Abdul Rahma Giawa terus berkembang ke arah yang semakin kompleks. Setelah sebelumnya mencuat dugaan intimidasi terhadap seorang warga, Asa Z. Hulu, kini muncul informasi baru terkait percakapan empat mata antara Asa dan Lurah Tapian Nauli berinisial S.TB, yang terjadi pada Kamis, 30 Oktober 2025.

Asa kepada wartawan menyebut bahwa dirinya dipanggil ke kantor kelurahan oleh S.TB. Dalam pertemuan tersebut, ia mengaku diminta mencabut laporan masyarakat yang telah ia sampaikan ke Inspektorat terkait dugaan penyalahgunaan anggaran Dana Kelurahan (DK) dan pungutan senilai Rp 300.000 per keluarga untuk fasilitas lampu tenaga surya yang tak kunjung terealisasi sejak tahun 2022.

“Beliau bilang kepada saya bahwa dirinya terancam dimutasi dan kariernya bisa putus kalau laporan itu diteruskan. Lurah meminta saya mencabut laporan itu,” ujar Asa.

Namun, menurut Asa, ada hal lain yang jauh lebih mengejutkan.

Dalam percakapan tersebut, Asa mengaku ditawari “bantuan” terkait kasus hilangnya Abdul Rahma Giawa—kasus yang sejak 2022 belum menemukan titik terang.

“Beliau mengatakan, kalau saya membantu mencabut laporan DK, maka beliau bersedia ikut membuka fakta di balik peristiwa tahun 2022 itu. Bahkan beliau mengaku sudah mendengar informasi tertentu langsung dari keluarga korban,” tambah Asa.

Asa menilai langkah ini janggal, sebab selama hampir empat tahun sejak peristiwa tersebut mencuat, kelurahan tidak pernah menunjukkan upaya serius menelusuri keberadaan korban. Bahkan SMS yang sempat beredar luas pada tahun 2022—yang memuat dugaan pembunuhan dan nama dua terduga pelaku—sempat disebut pihak kelurahan sebagai hoaks.

Menurut Asa, percakapan tersebut memperkuat dugaannya bahwa selama ini ada pihak-pihak yang mengetahui lebih banyak tentang peristiwa hilangnya Abdul Rahma Giawa, namun tidak menyampaikannya secara terbuka.

Ia juga menduga bahwa lurah dan salah satu ketua RT memiliki kedekatan keluarga dengan pihak tertentu yang disebut dalam rekaman video pengakuan S.H—yang sebelumnya mengaku terlibat dalam peristiwa tahun 2022. Namun, dugaan ini masih perlu diuji aparat penegak hukum dan tidak dapat dipastikan kebenarannya.

“Saya menduga selama ini ada hubungan kedekatan tertentu yang membuat informasi kasus ini tidak disampaikan transparan. Dugaan ini akan saya sampaikan kepada aparat penegak hukum untuk ditelusuri,” ujar Asa.

Terpisah, anak korban telah membuat laporan resmi ke Polres Tapanuli Selatan pada 19 Agustus 2025. Namun hingga kini belum ada tindakan penegakan signifikan yang terlihat di lapangan.

Pihak kepolisian disebut telah mengirimkan surat undangan klarifikasi kepada sejumlah pihak, termasuk kepada RT berinisial S. Nduru. Namun S. Nduru belum hadir memenuhi undangan tersebut.

S. Nduru sendiri secara terpisah mengaku siap diperiksa.

“Saya sudah sampaikan kepada polisi, kalau memang perlu ditangkap atau diperiksa, saya siap. Saya menunggu tindakan dari aparat,” ujarnya.

Sejauh ini, baik kelurahan maupun pihak keluarga korban belum memberikan tanggapan resmi atas dugaan-dugaan yang disampaikan Asa.

Asa menegaskan bahwa upayanya selama ini bukan untuk memperburuk nama siapa pun, melainkan untuk memastikan bahwa masyarakat mendapatkan kejelasan dalam kasus yang telah menggantung hampir empat tahun.

“Saya hanya ingin kebenaran. Tidak ada tujuan lain. Saya dan anak korban masih menunggu langkah dari aparat,” pungkasnya.

Hingga berita ini dipublikasikan, aparat penegak hukum yang menangani kasus ini belum memberikan keterangan resmi tambahan. Team

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *