Guncangan Nurani dari Aceh Singkil: ‘Surat Imajiner Yang Tercecer’ Razaliardi Manik Ungkap Jerit Pilu Rakyat Miskin di Tengah Belenggu HGU

NEWS UPDATE
LIPUTAN
KPK .COM
P T .S U A R A W A R T A N U S A N T A R A
S W N
───────────────────────────────────

Aceh Singkil | liputankpk.com ~ Dunia sastra lokal dan kesadaran publik di Aceh Singkil dikejutkan oleh sebuah karya yang menyayat hati, “Surat Imajiner Yang Tercecer”, buah pena misterius dari Razaliardi Manik. Lebih dari sekadar fiksi, surat ini adalah potret telanjang realitas pahit yang mendera ribuan keluarga miskin di wilayah tersebut, terutama mereka yang terpaksa hidup berdampingan dengan perkebunan raksasa pemegang Hak Guna Usaha (HGU).

Surat tersebut, yang disampaikan dalam format pesan seorang ayah kepada anaknya, menggambarkan secara lugas perjuangan seorang kepala keluarga yang setiap hari harus mengais “berondolan” (sisa-sisa panen kelapa sawit) di perkebunan HGU demi sesuap nasi. “Bila surat ini telah tiba di tanganmu, itu tandanya tetesan air mata dan peluh keringat sedang menyertai Ayah saat Ayah mengais berondolan,” demikian pembuka surat yang langsung menusuk ke inti persoalan.

Narasi dalam surat tersebut bukan hanya mengisahkan penderitaan individu, melainkan juga menyoroti kegagalan sistematis yang dirasakan masyarakat. Sang ayah mengungkapkan keputusasaannya, merasa tidak ada satu pun pihak yang berkuasa, mulai dari pemerintah, wakil rakyat, pemerhati sosial, hingga lembaga swadaya masyarakat yang sanggup menampung derita mereka. “Ayah takut tak seorangpun yang kuasa untuk menampung air mata dan tetesan keringat kami. Tidak juga penguasa negeri ini. Tak juga wakil-wakil kami yang duduk di singgasana sana,” tulisnya penuh kepedihan.

Pesan paling memilukan adalah permintaan sang ayah kepada anaknya: “Jangan kau ceritakan kepada siapapun tentang penderitaan yang menimpa kita.” Sebuah kalimat yang ironis, mengingat surat ini justru kini tersebar dan menjadi suara bagi mereka yang dibungkam. Namun, di balik keputusasaan itu, terselip secercah harapan yang dititipkan pada pendidikan. “Tetaplah sekolah anakku, agar kelak nasib kita bisa berubah. Besok Ayah akan mengutip berondolan lagi untuk biaya kuliahmu di rantau orang,” janji sang ayah, menunjukkan pengorbanan tanpa batas demi masa depan anaknya.

Ilustrasi kuat yang tergambar dalam “Surat Imajiner Yang Tercecer” ini secara gamblang merefleksikan kondisi riil masyarakat miskin di Aceh Singkil. Sebuah ironi besar terjadi ketika di satu sisi ada sekitar 9.000 hektar kebun plasma yang seharusnya menjadi hak masyarakat, namun berpuluh-puluh tahun terabaikan. Hak plasma ini merupakan kewajiban perusahaan pemegang HGU Perkebunan untuk menyerahkannya kepada rakyat.

Akibat pengabaian hak ini, banyak masyarakat desa yang berada di lingkungan perkebunan HGU terpaksa “mencuri” berondolan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian dari hak mereka hanya untuk menafkahi keluarga. Surat Razaliardi Manik ini bukan hanya sebuah karya sastra, melainkan sebuah seruan keras yang menggugah nurani, menuntut perhatian serius terhadap ketimpangan agraria dan kesejahteraan rakyat di Aceh Singkil.{*}

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *