Bayung Lencir – Krisis air bersih kembali melanda wilayah Kecamatan Bayung Lencir dengan kondisi yang kian memprihatinkan. Sudah hampir dua minggu lamanya, pasokan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) berhenti total, sementara hingga saat ini belum ada kejelasan maupun solusi nyata dari pihak terkait. Dampak buruknya pun merembet ke berbagai sektor, mulai dari rumah tangga, fasilitas umum, tempat ibadah, dunia usaha, hingga pelayanan kesehatan.
Salah satu yang paling terdampak dan sangat mengkhawatirkan adalah operasional RSUD Bayung Lencir. Rumah sakit yang saat ini beroperasi dengan kapasitas tempat tidur penuh tersebut kini terpaksa bekerja keras untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan air bersih guna mendukung pelayanan medis, menjaga kebersihan lingkungan, serta memenuhi kebutuhan pasien, keluarga pasien, dan kelancaran aktivitas harian.
Untuk sekadar bertahan, setiap hari RSUD hanya mengandalkan bantuan suplai air dari Manggala Agni dan Dinas Pemadam Kebakaran Bayung Lencir, yang rata-rata hanya mencapai 5 tangki per hari. Padahal, kebutuhan riil air bersih di rumah sakit ini menembus angka lebih dari 50.000 liter setiap harinya.
Kondisi ini dinilai sangat genting karena air merupakan kebutuhan utama dan paling vital bagi pelayanan kesehatan. Jika masalah ini terus berlanjut tanpa penanganan segera dan tepat sasaran, dikhawatirkan pelayanan medis kepada masyarakat akan terancam lumpuh dan membahayakan keselamatan nyawa para pasien.
Dampak krisis ini juga sangat terasa hingga membuat warga menjerit. Seluruh lapisan masyarakat kini kesulitan berat memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari seperti mandi, mencuci, memasak, hingga keperluan sanitasi. Tak hanya itu, para pedagang dan pelaku usaha pun menyuarakan keluhan yang sama, di mana aktivitas usaha mereka lumpuh atau terhambat parah akibat tidak adanya pasokan air sama sekali.
Menanggapi keluhan yang meluas tersebut, pihak media telah berupaya meminta konfirmasi kepada manajemen PDAM Bayung Lencir. Dari penjelasan yang diperoleh, terganggunya distribusi air disebabkan oleh insiden kebakaran trafo di kawasan PLTU. Akibat peristiwa itu, tegangan listrik atau voltase yang disalurkan menjadi rendah, sehingga mengakibatkan kinerja mesin tidak dapat berjalan maksimal dan suplai air ke pelanggan pun terhenti.
“Pasca kejadian trafo PLN di PLTU terbakar, kami tidak bisa maksimal mendistribusikan air ke pelanggan karena voltase PLN rendah. Padahal koordinasi sudah kami lakukan dengan pihak PLN, Camat, Polsek, hingga KNPI. Tim kami juga sudah turun langsung ke lokasi saat kejadian dan mediasi antar pihak pun sudah pernah dilaksanakan,” ungkap keterangan dari pihak PDAM.
Lebih lanjut dijelaskan, saat ini proses perbaikan dan penyaluran tenaga listrik atau energize masih dalam tahap pengerjaan, di mana pembebanan listrik dilakukan secara bertahap demi keamanan jaringan.
Melihat dampak yang begitu luas, mendesak, dan menyengsarakan masyarakat, warga sangat mendesak pemerintah daerah dan pihak terkait untuk segera turun tangan, mencari solusi konkret, dan bertindak secepatnya. Pantauan ketat terhadap proses perbaikan sangat diperlukan agar penyaluran listrik segera pulih normal. Dengan demikian, distribusi air bersih dapat kembali lancar sebelum krisis ini menimbulkan dampak yang lebih parah terhadap kesehatan, keselamatan pasien, serta kelangsungan ekonomi seluruh warga Bayung Lencir.












