LIPUTAN KPK.COM, Aceh ______________ Dugaan tidak sesuai spesifikasi dasar, proyek pembangunan jalan ruas Alur Sali – Simpang IV Alur Sali Selso I, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, yang dikerjakan menggunakan anggaran APBN Tahun 2025 senilai Rp 9.249.975.103 dengan sistem multi years, menuai sorotan dari berbagai kalangan.
Sorotan tersebut muncul, setelah hasil pekerjaan dinilai menunjukkan sejumlah indikasi yang diduga tidak sesuai spesifikasi teknis. Berdasarkan pantauan media, Minggu (07/06). Di lapangan, permukaan jalan terlihat bergelombang, dan pada beberapa titik tampak aspal yang tidak menyatu secara sempurna.
Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa pekerjaan pada lapisan dasar perkerasan jalan, khususnya AC-Base dan AC-BC (Asphalt Concrete Binder Course), tidak terlaksana secara optimal sehingga berdampak pada kualitas lapisan permukaan. Selain itu, adanya pori-pori besar pada permukaan aspal diduga terjadi akibat proses penghamparan ( paving ) yang dilakukan ketika suhu material aspal tidak lagi berada pada standar yang dipersyaratkan.
Publik menilai kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi kualitas dan umur konstruksi jalan apabila tidak segera dilakukan perbaikan sesuai ketentuan teknis yang berlaku.
Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon WhatsApp, Direktur perusahaan dari CV Alin Genk menjelaskan bahwa pekerjaan tersebut masih berstatus proyek multi years, bulan enam ini batas nya.
“Itu proyek multi years, bulan enam ini batasnya, kalau mau bertanya langsung ke pelaksananya saja,” ujar direktur perusahaan tersebut.
Sementara itu, saat dikonfirmasi Pelaksana Kegiatan, Ikhsan, mengakui adanya bagian pekerjaan yang akan diperbaiki atau dibongkar.
“Iya bang, mau kita bongkar. Karena saat pengaspalan turun hujan. Pasti kita perbaiki, ini masih proses pengerjaan bang,” jelasnya.
Pernyataan pelaksana tersebut sekaligus mengindikasikan bahwa, dugaan tidak sesuai spesifikasi itu ada, alasan nya jelas pihak pelaksana menyadari adanya pekerjaan yang perlu dilakukan perbaikan, atau pembongkaran.
Meski demikian, kondisi yang terlihat di lapangan tetap menimbulkan pertanyaan publik mengenai efektivitas pengawasan terhadap pelaksanaan proyek bernilai miliaran rupiah tersebut.
Dari kondisi jalan saat ini, publik menilai lemah nya sistem pengawasan seharusnya dilakukan secara ketat sejak tahap awal pekerjaan agar potensi kesalahan teknis dapat dicegah sebelum berdampak pada hasil akhir konstruksi.
Publik juga berharap perusahaan konsultan pengawas yang bertanggung jawab dalam proyek tersebut menjalankan fungsi pengawasan secara profesional dan independen. Menurut publik, pengawasan bukan sekadar memenuhi administrasi proyek, melainkan memastikan setiap tahapan pekerjaan dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis, standar mutu, dan ketentuan kontrak yang telah ditetapkan.
Dengan besarnya anggaran yang digelontorkan dari uang negara, publik berharap proyek pembangunan jalan tersebut benar-benar menghasilkan kualitas pekerjaan yang baik, sehingga dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi pengguna jalan dan tidak menimbulkan kerugian negara akibat pekerjaan yang harus berulang kali diperbaiki.
Hingga berita ini diturunkan, proyek masih finishing akhir, karena terlihat pekerja sedang membuat garis lurus tepian jalan ( Marka Longitudinal ), dan pihak pelaksana menyatakan akan melakukan pembongkaran serta perbaikan terhadap bagian pekerjaan yang dinilai belum memenuhi standar. Namun demikian, publik tetap meminta instansi terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh guna memastikan seluruh pekerjaan dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis dan prinsip akuntabilitas penggunaan anggaran negara.
(Kaperwil Aceh)












