Liputan KPK.Com, Aceh____ Bencana boleh meninggalkan luka, tetapi semangat untuk bangkit tidak boleh padam. Itulah yang kini terlihat di SD Negeri 1 Alur Selebu, Kampung Alur Selebu, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang. Sekolah yang sebelumnya terdampak bencana hidrometeorologi banjir bandang kini perlahan berubah wajah melalui program revitalisasi yang pengerjaannya telah mencapai sekitar 77 persen.
Perubahan tersebut menjadi angin segar bagi dunia pendidikan di Aceh Tamiang. Di tengah upaya pemulihan pascabencana, pemerintah menunjukkan perhatian terhadap fasilitas pendidikan yang menjadi tempat anak-anak menimba ilmu dan membangun masa depan.
Pantauan Media Liputan KPK.Com di lapangan menunjukkan kondisi SD Negeri 1 Alur Selebu, kini jauh berbeda dibandingkan masa pascabencana. Sejumlah bagian sekolah mulai dibenahi melalui pekerjaan revitalisasi yang didukung anggaran dari Kementerian Pendidikan Republik Indonesia.
Program tersebut diharapkan tidak sekadar memperbaiki bangunan sekolah, tetapi juga mengembalikan rasa aman dan nyaman bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Kepala Sekolah Apresiasi Perjuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tamiang.
Kepala SD Negeri 1 Alur Selebu, Muhroni, S.Pd, memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, khususnya Bupati Aceh Tamiang, Dinas Pendidikan serta jajaran bidang pendidikan dasar yang dinilai telah berupaya memperjuangkan anggaran revitalisasi bagi sekolah-sekolah yang terdampak bencana.
Menurut Muhroni, perhatian pemerintah terhadap sekolah terdampak menjadi bukti bahwa pemulihan pendidikan merupakan bagian penting dari proses kebangkitan Aceh Tamiang setelah diterpa bencana.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pimpinan daerah Kabupaten Aceh Tamiang, khususnya Bupati dan Dinas Pendidikan. Berkat persetujuan dan arahan pemerintah, sekolah kami yang terkena bencana dapat direhabilitasi,” ujar Muhroni.
Ia berharap seluruh proses revitalisasi dapat diselesaikan dengan baik sehingga sekolah kembali menjadi lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi para siswa.
Bukan Sekedar Bangunan. Tetapi Memulihkan Trauma Anak
Muhroni menegaskan, pemulihan sekolah memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar memperbaiki bangunan yang rusak akibat bencana.
Bagi para siswa, sekolah adalah tempat mereka menghabiskan waktu untuk belajar, bermain dan berinteraksi. Karena itu, kondisi lingkungan sekolah pascabencana juga berkaitan erat dengan pemulihan psikologis anak-anak.
“Kami berharap setelah revitalisasi ini selesai, tidak ada lagi jejak bencana di sekolah. Anak-anak dapat kembali belajar dengan nyaman dan tidak lagi trauma terhadap bencana tersebut,” katanya.
Dengan progres pekerjaan yang telah mencapai 77 persen, pihak sekolah berharap revitalisasi dapat segera dituntaskan sesuai target dan ketentuan yang berlaku.
Menatap Masa Depan
Revitalisasi SD Negeri 1 Alur Selebu menjadi salah satu gambaran bagaimana dunia pendidikan berusaha bangkit setelah dihantam bencana.
Bangunan yang diperbaiki bukan hanya dinding, lantai maupun fasilitas sekolah. Di balik proses tersebut terdapat harapan agar anak-anak Aceh Tamiang kembali memiliki ruang belajar yang layak dan masa depan yang lebih baik.
Dukungan pemerintah daerah dan pemerintah pusat diharapkan terus berlanjut hingga seluruh sekolah terdampak bencana benar-benar pulih.
Dari sekolah yang pernah diterjang bencana, kini tumbuh kembali harapan. SD Negeri 1 Alur Selebu bukan sekadar sedang direvitalisasi, tetapi sedang membangun kembali semangat anak-anak Aceh Tamiang untuk menatap masa depan.
Semangat itu sejalan dengan tekad pemulihan Aceh Tamiang: “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat.”
(Kaperwil Aceh)












