Diduga…!!! Demi Meraup Keuntungan Besar, Proyek Rp2,1 Miliar Revitalisasi SD Negeri 1 Tualang Cut Abaikan Keselamatan Siswa

NEWS UPDATE
LIPUTAN
KPK .COM
P T .S U A R A W A R T A N U S A N T A R A
S W N
───────────────────────────────────

Liputan KPK.Com, Aceh _____Dugaan buruknya kualitas pekerjaan dalam proyek revitalisasi SD Negeri 1 Tualang Cut, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, mulai mendapat sorotan tajam. Jum’at (28/08).

Proyek yang disebut bernilai sekitar Rp2,1 miliar tersebut dipertanyakan setelah ditemukan kondisi resplang/kayu bagian bangunan yang sudah lapuk. Kondisi itu dinilai berpotensi membahayakan keselamatan siswa maupun warga sekolah apabila tidak segera diperbaiki secara benar.

Dari penelusuran Media Liputan KPK.Com di lokasi proyek, seorang tukang ketika dikonfirmasi terkait kondisi resplang yang lapuk mengatakan bahwa bagian tersebut akan diganti.

“Kamu akan ganti bang, mencari kayu sekarang sulit, Bang,” ujar tukang tersebut

Sementara itu, saat dikonfirmasi diruang kerjanya mengenai kondisi resplang tersebut, Plt. Kepala SD Negeri 1 Tualang Cut menyampaikan bahwa pihak sekolah akan menggantinya. Namun, ia juga menyatakan keberatan dengan kedatangan media saat proses belajar mengajar berlangsung.

“Kedatangan Abang Abang, saya merasa sangat terganggu, waktu saya terkait belajar mengajar. Masalah resplang itu akan kami ganti,” ujarnya.

Namun, berdasarkan pantauan media di lapangan, pernyataan tersebut justru menimbulkan pertanyaan. Sebab, bagian resplang yang sebelumnya diduga telah lapuk tersebut, setelah dikonfirmasi lewat telephon WhatsAp bukan dijawab, tapi malah bukan diganti dengan material baru, melainkan hanya didempul. Dan publik pun betanya- tanya kalau tidak mau terganggu dengan pertanyaan yang dilontarkan awak media mudah saja, lepaskan jabatan plt kepala sekolah kembali jadi guru itu saja saran nya.

Jika kondisi tersebut benar, publik patut mempertanyakan standar mutu pekerjaan revitalisasi yang menggunakan anggaran mencapai miliaran rupiah.

Penggunaan dempul pada material kayu yang sudah lapuk juga dinilai tidak menyelesaikan persoalan apabila kerusakan struktur memang sudah terjadi. Terlebih, posisi bangunan berada di lingkungan sekolah yang setiap hari dipenuhi aktivitas siswa.

Jangan sampai proyek revitalisasi yang seharusnya menghadirkan bangunan sekolah yang lebih aman dan layak justru menyisakan potensi bahaya bagi para siswa.

Publik pun mempertanyakan apakah pekerjaan tersebut telah dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis, standar mutu konstruksi, serta dokumen kontrak. Jika terdapat material yang seharusnya diganti tetapi hanya diperbaiki secara kosmetik, maka hal tersebut patut menjadi perhatian pihak pengawas dan instansi terkait.

Sorotan publik tidak hanya tertuju pada kualitas pekerjaan, tetapi juga pada penggunaan anggaran revitalisasi senilai sekitar Rp2,1 miliar. Masyarakat meminta agar tidak hanya melihat hasil pekerjaan secara kasat mata, tetapi juga memeriksa dokumen pengadaan, spesifikasi material, volume pekerjaan, serta kesesuaian antara anggaran dan realisasi di lapangan.

Publik mendesak Inspektorat, Dinas Pendidikan, aparat pengawasan terkait, maupun Aparat Penegak Hukum (APH) untuk melakukan pemeriksaan apabila ditemukan indikasi penyimpangan dalam pelaksanaan proyek tersebut.

Apalagi, proyek revitalisasi sekolah semestinya menjadi sarana untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan berkualitas, bukan justru menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan peserta didik.

Publik kini menunggu, apakah proyek Rp2,1 miliar tersebut benar-benar menghasilkan bangunan yang berkualitas, atau justru menyimpan persoalan yang perlu dibongkar melalui pemeriksaan resmi….?

 

(Kaperwil Aceh)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *