Probolinggo –liputankpk.com: Kabut tipis dan udara sejuk menyelimuti kawasan Gerbang Wisata Sukapura (GWS), pintu masuk wisata internasional Gunung Bromo, saat ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo menggelar Upacara Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, Sabtu (3/1/2026).
Lokasi upacara yang berada di kawasan multikultural Sukapura menjadi simbol kuat pesan toleransi, kerukunan, dan persatuan umat beragama. Ribuan peserta upacara berasal dari 24 Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Probolinggo, ASN Kantor Kemenag, guru dan tenaga kependidikan madrasah, pengawas pendidikan keagamaan, serta unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan perwakilan organisasi kemasyarakatan keagamaan.

Muhammad Haris Damanhuri Romly atau Gus Haris
Bupati Probolinggo dr. H.M. Haris Damanhuri, M.Kes (Gus Haris) bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam amanatnya, Gus Haris menegaskan bahwa Kementerian Agama lahir sebagai jawaban atas kebutuhan bangsa Indonesia yang majemuk, dengan beragam agama, budaya, dan tradisi yang harus dijaga keharmoniannya.
“Kemenag memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kerukunan dan harmoni umat. Kehadirannya adalah pondasi penting bagi kedamaian dan persatuan bangsa,” ujar Gus Haris.
Menurutnya, Kecamatan Sukapura bukan hanya dikenal sebagai gerbang wisata menuju Gunung Bromo, tetapi juga merupakan contoh nyata kehidupan masyarakat multikultural yang hidup berdampingan secara damai. Hal tersebut menjadi alasan kuat dipilihnya lokasi ini sebagai tempat peringatan HAB ke-80.
“Sukapura bukan hanya gerbang wisata, tetapi juga gerbang toleransi. Dari tempat ini kita sampaikan pesan kepada dunia bahwa Probolinggo menjunjung tinggi persatuan dalam keberagaman. Agama harus menjadi perekat persaudaraan, bukan pemisah,” tegasnya.
Mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi Indonesia Damai dan Maju”, peringatan HAB ke-80 ini menjadi momentum refleksi perjalanan panjang Kementerian Agama sekaligus penguatan komitmen dalam memperkuat moderasi beragama. Gus Haris menekankan peran strategis ASN Kemenag sebagai agen moderasi yang harus hadir tidak hanya secara administratif, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“ASN Kemenag harus menjadi teladan dalam sikap, perilaku, dan pelayanan. Kemenag harus berdampak, dirasakan kehadirannya, serta menjadi pilar utama dalam menjaga harmoni sosial dan kebangsaan,” imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga menyoroti program unggulan Menuju Desa Kerukunan yang diinisiasi untuk memperkuat toleransi secara konkret hingga tingkat desa, baik di lingkungan masyarakat maupun birokrasi pemerintahan daerah.
Peringatan HAB ke-80 Kemenag RI di Kabupaten Probolinggo tidak hanya bersifat seremonial. Sejumlah agenda sosial turut mewarnai kegiatan, antara lain penyerahan piagam akta wakaf sebagai upaya percepatan legalitas aset keagamaan, pemberian apresiasi kepada Da’i Cilik pemenang lomba Pildacil tingkat Jawa Timur, serta santunan kepada anak yatim sebagai wujud kepedulian sosial.
Upacara ditutup dengan doa bersama lintas agama yang berlangsung khidmat dan penuh makna, dilanjutkan dengan prosesi Ikrar Moderasi Beragama. Seluruh peserta bersama jajaran Forkopimda dan ormas keagamaan berkomitmen untuk terus menjaga toleransi, memperkuat persatuan, serta mewujudkan Indonesia yang damai, rukun, dan maju.
Di tengah bentangan alam Sukapura yang memesona, peringatan HAB ke-80 Kemenag RI ini menjadi simbol kuat komitmen bersama dalam merawat toleransi, memperkokoh persaudaraan, dan menghadirkan pelayanan keagamaan yang profesional serta berdampak nyata bagi masyarakat luas.
Penulis: Amin












