Pontianak, Liputan kpk.com — 3 Desember 2025. Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, resmi melantik jajaran direksi baru Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Khatulistiwa setelah melalui proses seleksi yang berlangsung hampir empat bulan. Pelantikan dilakukan di Aula PDAM Tirta Khatulistiwa usai seluruh tahapan panitia seleksi disetujui oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Selasa (02/12/25).
Direksi yang dilantik yaitu Abdullah sebagai Direktur Utama, Muhammad Zulhiyardi sebagai Direktur Pelayanan, dan Agus Darius sebagai Direktur Administrasi dan Keuangan. Sementara calon Direktur Teknik hingga kini belum mendapat persetujuan karena belum memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam proses seleksi.
Dalam sambutannya, Wali Kota menegaskan bahwa direksi baru harus bekerja secara profesional dan memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan air bersih yang optimal. “Yang terpenting masyarakat puas dengan layanan PDAM. Alirannya lancar, bersih, jernih dan tekanannya baik,” ujar Edi.
Ia menjelaskan bahwa cakupan layanan air bersih di Kota Pontianak telah mencapai 91,7 persen, dengan target mencapai 100 persen dalam beberapa tahun mendatang. Namun tantangan besar masih dihadapi, terutama tingginya angka kebocoran air hingga 30,4 persen serta banyaknya jaringan pipa berusia tua yang wajib diganti.
“Secara hasil uji laboratorium, air PDAM sudah layak minum. Tetapi ketika mengalir ke rumah warga, ada yang masih terkontaminasi bakteri E. Coli atau kurang jernih. Masalah utamanya ada pada kondisi pipa distribusi,” jelasnya.
Dalam dua tahun terakhir, Pemerintah Kota telah mengganti jaringan pipa pada beberapa titik seperti kawasan Sungai Jawi dan Perdana. Namun perbaikan total harus dilakukan bertahap mengingat kebutuhan investasi mencapai lebih dari Rp 1 triliun. “Seluruh target itu sudah dituangkan dalam perjanjian kinerja. Saya minta direksi fokus bekerja keras untuk meningkatkan kualitas layanan air bersih,” tegas Edi.
Sementara itu, Direktur Utama PDAM Tirta Khatulistiwa, Abdullah, menegaskan pihaknya siap menindaklanjuti arahan Wali Kota. Hingga tahun 2030, PDAM menargetkan cakupan layanan mencapai 97 persen dengan penambahan sekitar 19.800 sambungan rumah (SR). “Dengan bertambahnya pelanggan, otomatis kubikasi air meningkat. Karena itu kapasitas instalasi juga harus ditambah,” jelasnya.
Abdullah menyebutkan beberapa instalasi baru seperti di Nipah Kuning dan Sungai Jawi Luar akan segera beroperasi. Selain itu, peningkatan kapasitas juga dilakukan di Parit Mayor, Selat Panjang, dan Sungai Jawi Luar. Namun tantangan terbesar PDAM datang dari kondisi alam Pontianak yang berada di tanah gambut, membuat kualitas air baku sangat dipengaruhi musim. Pada musim hujan, warna air Sungai Kapuas berubah kecoklatan, sedangkan musim kemarau menyebabkan intrusi air laut.
“Namun kami tidak tinggal diam. Kami terus turun ke masyarakat untuk melakukan optimalisasi dan evaluasi,” ujarnya.
Terkait pencurian air, Abdullah mengakui kasusnya masih ditemukan setiap bulan. PDAM menangani kasus tersebut dengan pendekatan persuasif, dibantu aparat kepolisian dan TNI. “Target kami, tingkat kebocoran terus bisa ditekan,” tegasnya.
Abdullah menambahkan bahwa meski target layanan 100 persen terus dikejar, sekitar 3 persen wilayah yang tidak bisa dijangkau jaringan pipa akan dilayani melalui hidran umum dan armada tangki air. “Pelayanan air bersih adalah kewajiban yang harus kami penuhi sesuai visi-misi Pemerintah Kota,” pungkasnya.( Ms, Mulyadi )











