Mengetuk Pintu Langit: Pesan Haru Ketua MPU Aceh Singkil untuk Selamatkan Negeri dari Perpecahan Elit

NEWS UPDATE
LIPUTAN
KPK .COM
P T .S U A R A W A R T A N U S A N T A R A
S W N
───────────────────────────────────

ACEH SINGKIL | liputankpk.com ~ Di ambang usia ke-27 tahun Kabupaten Aceh Singkil, sebuah “Bisikan Cinta” yang menggetarkan sanubari datang dari Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Singkil, H. Roesman Hasmi. Bukan sekadar imbauan formal, pesan ini merupakan suara nurani yang mendalam menyikapi kondisi politik dan keharmonisan pemerintahan yang dinilai sedang “tidak baik-baik saja”.

Luka di Balik Kejayaan:

H. Roesman Hasmi mengingatkan kembali bahwa Aceh Singkil adalah Negeri Batuah, tanah para ulama yang melahirkan cahaya peradaban melalui sosok agung Syekh Abdurrauf As-Singkili. Ia menegaskan bahwa negeri ini dibangun dengan tetesan keringat, doa tanpa putus, dan air mata para pejuang.

Namun, di tengah perjalanan sejarahnya, Ketua MPU merasakan adanya kegelisahan yang nyata. “Angin kabar yang berhembus membawa cerita tentang retaknya keharmonisan antara eksekutif dengan sesama eksekutif, serta antara eksekutif dengan legislatif,” ungkapnya dengan nada prihatin.

Kritik Tajam Terhadap Ego Kekuasaan:

Menurutnya, ketidakharmonisan ini bukan sekadar persoalan dinamika politik biasa, melainkan luka di hati rakyat yang menghambat kemajuan daerah. Ia menekankan bahwa jabatan bukanlah panggung untuk mempertontonkan arogansi.

“Ingatlah, negeri ini diperjuangkan bukan untuk melukai rakyatnya, bukan untuk membesarkan ego sektoral, dan bukan pula untuk mempertontonkan arogansi kekuasaan,” tegas H. Roesman. Ia mengingatkan bahwa Aceh Singkil adalah milik nelayan, petani, pedagang, guru, hingga anak-anak yang masa depannya bergantung pada kebijakan hari ini.

Seruan Rekonsiliasi Menjelang Ramadan:

Menjelang bulan suci Ramadan, Ketua MPU mengeluarkan seruan tulus kepada seluruh jajaran pimpinan daerah:
1. Letakkan Kepentingan Rakyat di Atas Segalanya: Meminta eksekutif dan legislatif untuk segera memadamkan api perseteruan.
2. Jaga Marwah Sumpah Jabatan: Mengingatkan bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
3. Rajut Kembali Persatuan: Mengajak seluruh elemen untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan alasan perpecahan.

“Jangan biarkan sejarah mencatat kita sebagai generasi yang mewariskan perpecahan. Biarlah ia mencatat kita sebagai generasi yang merajut kembali persatuan dan mengembalikan kejayaan negeri ini,” tambahnya.

Momentum Suci untuk Saling Memaafkan
Menutup pesannya, H. Roesman mengajak seluruh pihak untuk menyambut Ramadan dengan hati yang fitrah. Ia berharap momentum bulan suci ini menjadi waktu yang tepat untuk saling memaafkan dan menyucikan batin guna mewujudkan Aceh Singkil sebagai “Rumah yang Teduh” bagi seluruh rakyatnya.

“Semoga Allah SWT melembutkan hati kita, melapangkan dada kita, dan menuntun langkah kita menuju jalan pengabdian yang sejati,” pungkasnya.{*}

Reporter Aceh Singkil: Khalikul Sakda.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *