Kemenag Probolinggo Gelar Upacara Hari Kesaktian Pancasila, Refleksi Peristiwa G30S/PKI

NEWS UPDATE
LIPUTAN
KPK .COM
P T .S U A R A W A R T A N U S A N T A R A
S W N
───────────────────────────────────

Probolinggo – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo menggelar Upacara Bendera Hari Kesaktian Pancasila pada Rabu, 1 Oktober 2025 di halaman kantor Kemenag setempat, Jalan KH. Hasan Genggong No. 235, mulai pukul 07.00 WIB.

 

Berdasarkan nota dinas Kepala Kankemenag Kabupaten Probolinggo, Samsur, kegiatan ini  diikuti oleh seluruh jajaran, mulai dari kepala subbag TU, kepala seksi, kepala KUA kecamatan, pengawas, penghulu, penyuluh, hingga ASN Kemenag induk. Peserta yang diwajibkan mengenakan seragam KORPRI: pria memakai celana hitam, peci hitam, dan sepatu tertutup; sementara wanita memakai rok atau bawahan hitam, jilbab hitam, serta sepatu tertutup.

 

Susunan Petugas Upacara

 

Pembina Apel: Kepala Kemenag Probolinggo

 

Komandan Upacara: Heru Lusiyanto, S.Ag., S.Pd.

 

Pengibar Bendera: Didik Irawan, S.Pd., M.Pd.; Saiful Ulum, S.Pd., M.A.; Suparman, S.Pd.I., M.Pd.I.

 

Pembaca UUD 1945: Puguh Stya Nugraha, S.Pd.

 

Ajudan: Dwi Kartiko Hadisaputro, S.Pd.

 

Susunan Acara: Eny Sulistiana, S.Pd.

 

Doa: Asbi Amrullah, S.Ag.

 

Pengatur Barisan: Karimul Huda, S.Pd.

 

 

Dalam sambutannya, Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo, Samsur, menegaskan bahwa upacara ini bukan hanya seremonial, melainkan juga menjadi sarana refleksi sejarah agar generasi bangsa tidak melupakan nilai luhur Pancasila.

 

Refleksi G30S/PKI

 

Hari Kesaktian Pancasila tidak bisa dilepaskan dari peristiwa G30S/PKI (Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia) yang juga dikenal sebagai Gestapu atau Gerakan 1 Oktober. Tragedi kelam tersebut setiap tahun diperingati sebagai pengingat pentingnya menjaga persatuan bangsa dan menolak segala bentuk kekerasan.

 

Peristiwa itu menunjukkan bahwa perpecahan antar-elit dapat mengancam ideologi negara. Kekerasan hanya menimbulkan korban, duka, merusak toleransi, dan berpotensi memecah belah persatuan. Dari sejarah ini, bangsa Indonesia belajar bahwa ambisi kekuasaan bisa membuat seseorang menghalalkan segala cara dan melupakan nilai Pancasila: kemanusiaan, persatuan, musyawarah, keadilan sosial, dan ketuhanan.

 

Selain itu, kesejahteraan rakyat merupakan kunci utama terciptanya harmoni bangsa. Ketidakadilan sosial dapat memicu ketidakpuasan yang dimanfaatkan pihak tertentu untuk meraih kekuasaan dengan jalan kekerasan. Namun, sejarah juga membuktikan bahwa kekuasaan yang dibangun dengan kekerasan tidak pernah bertahan lama, sebab ada kekuasaan yang lebih tinggi, yakni kekuasaan Tuhan.

 

Karena itu, peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama menjaga persatuan, menolak kekerasan, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penulis : A. N

 

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *