Bukan Sekadar Tilang!” Kakorlantas Polri: Atasi ODOL di Kalsel dengan Pendekatan Holistik, Libatkan Akademisi dan Ekonomi

NEWS UPDATE
LIPUTAN
KPK .COM
P T .S U A R A W A R T A N U S A N T A R A
S W N
───────────────────────────────────

JAKARTA – Liputankpk.com

Penertiban kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL) tidak bisa lagi hanya mengandalkan gertakan sanksi atau operasi penindakan semata. Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menegaskan bahwa solusi jangka panjang memerlukan pendekatan yang menyeluruh, melibatkan aspek ekonomi, sosial, hingga edukasi publik.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol. Agus Suryonugroho, saat memberikan apresiasi terhadap inisiatif Polda Kalimantan Selatan (Kalsel) bersama Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Keduanya baru saja menggelar Seminar Nasional dan Deklarasi Fakta Integritas menuju “Kalimantan Selatan Zero Over Dimension & Over Loading”, sebuah langkah berani untuk mengubah wajah transportasi di Bumi Banjar.

Menyelesaikan Akar Masalah, Bukan Hanya Gejala
Irjen Pol. Agus menilai bahwa fenomena ODOL adalah masalah kompleks yang bersifat holistik. Ia menekankan bahwa penegakan hukum hanyalah satu ujung tombak, sementara akar masalahnya sering kali terletak pada tekanan ekonomi pengemudi, rantai pasok logistik, hingga budaya masyarakat.

“Ketika kita bicara over dimension dan over loading, ini sangat holistik. Kita harus meninjau dari aspek ekonomi, fiskal, sosiologis hingga penegakan hukum. Tidak bisa diselesaikan hanya dengan tilang,” ujar Irjen Pol. Agus dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa tanpa pemahaman mendalam mengenai mengapa pelaku melakukan pelanggaran, penertiban hanya akan bersifat sementara. Oleh karena itu, keterlibatan akademisi seperti ULM menjadi kunci untuk membedah masalah ini secara ilmiah dan menemukan solusi yang berkelanjutan.

Edukasi Sebelum Eksekusi
Kakorlantas juga menyoroti pentingnya membangun kesadaran publik sebelum implementasi kebijakan ketat dilakukan secara penuh. Sinergi antara aparat keamanan dan institusi pendidikan dinilai sebagai model ideal untuk menciptakan perubahan perilaku (behavior change) di kalangan pengusaha transportasi dan pengemudi.

“Saya sangat mengapresiasi Polda Kalimantan Selatan dan Universitas Lambung Mangkurat yang memulai langkah ini melalui seminar nasional. Ini adalah fondasi kuat untuk membangun budaya keselamatan,” tambahnya.

Kalsel Sebagai Role Model Nasional
Langkah proaktif yang diambil oleh Polda Kalsel dan mitra strategisnya diharapkan dapat menjadi percontohan bagi daerah lain di Indonesia. Irjen Pol. Agus berharap sinergi lintas sektor ini dapat mempercepat terwujudnya sistem transportasi yang aman, tertib, dan berkelanjutan sesuai agenda nasional.

“Deklarasi ini bukan sekadar seremonial, tapi komitmen nyata. Saya berharap apa yang dilakukan di Kalsel bisa menjadi inspirasi bagi provinsi lain untuk memperkuat budaya keselamatan lalu lintas dengan cara yang cerdas dan manusiawi,” pungkasnya.

Dengan dukungan penuh dari Korlantas Polri, gerakan “Zero ODOL” di Kalimantan Selatan kini memiliki landasan yang lebih kuat, tidak hanya dari sisi legalitas, tetapi juga dari sisi akademik dan sosial kemasyarakatan.

(Warianto)

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *