‎Gempa Tektonik Disebut Hasil Engineering, Benarkah Bisa Dipicu HAARP? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Gambar Ilustrasi
NEWS UPDATE
LIPUTAN
KPK .COM
P T .S U A R A W A R T A N U S A N T A R A
S W N
───────────────────────────────────

Kota Bogor, Jawa Barat || LiputanKPK.com
‎Perdebatan mengenai penyebab gempa bumi kembali menjadi perhatian setelah beredar pernyataan yang mengaitkan gempa tektonik dengan teknologi atau engineering manusia. Minggu, 06/09/2026.

‎Salah satu pandangan yang pernah disampaikan Dharma Pongrekun menyebut gempa tektonik sebagai sesuatu yang berkaitan dengan rekayasa atau teknologi. Pernyataan tersebut kemudian kembali diperbincangkan di media sosial dan dikaitkan dengan keberadaan High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) di Alaska, Amerika Serikat.

‎Narasi yang beredar menyebut HAARP menggunakan gelombang frekuensi sangat rendah atau Extremely Low Frequency (ELF) untuk memanipulasi cuaca. Teknologi tersebut kemudian diklaim dapat diarahkan ke wilayah tertentu dan memicu pergeseran sesar sehingga menghasilkan gempa bumi.

‎Namun, klaim tersebut perlu dibedakan antara pendapat atau dugaan dengan fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.

‎HAARP sebenarnya digunakan untuk apa?

‎Berdasarkan keterangan resmi pengelola HAARP dari University of Alaska Fairbanks, HAARP merupakan fasilitas penelitian yang dirancang untuk mempelajari ionosfer, yakni lapisan atmosfer bagian atas yang berada sekitar 50 hingga 400 mil di atas permukaan Bumi.

‎HAARP menggunakan pemancar radio frekuensi tinggi (High Frequency/HF) untuk melakukan eksperimen terhadap ionosfer. Instrumen utamanya terdiri dari susunan antena yang mampu memancarkan daya hingga sekitar 3,6 megawatt ke ionosfer.

‎Artinya, informasi mengenai HAARP perlu diluruskan. HAARP bukan perangkat yang bekerja dengan prinsip memancarkan energi ELF ke dalam kerak bumi untuk menggerakkan sesar.

‎Dalam penelitian HAARP, gelombang radio digunakan untuk memanaskan wilayah kecil di ionosfer dan kemudian para ilmuwan mengamati perubahan yang terjadi.

‎Pembangunan HAARP dimulai 1993

‎Ada pula informasi yang menyebut pembangunan HAARP dimulai pada 1992. Berdasarkan FAQ resmi HAARP, pembangunan stasiun penelitian tersebut dimulai pada 1993, sedangkan proses kajian dampak lingkungannya berlangsung pada 1992–1993. Fasilitas fungsional pertama selesai pada musim dingin 1994.

‎Dengan demikian, penyebutan bahwa pembangunan HAARP dimulai pada 1992 juga perlu diperjelas agar tidak terjadi kekeliruan antara tahap kajian lingkungan dan pembangunan fasilitas.

‎Apakah HAARP bisa memicu gempa?

‎Sampai saat ini, tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan HAARP mampu memicu gempa bumi tektonik dengan mengarahkan gelombang radio ke suatu sesar.

‎Sejumlah pemeriksa fakta dan ilmuwan telah membantah klaim yang menghubungkan HAARP dengan berbagai bencana alam. Bahkan dalam kasus gempa besar yang terjadi di sejumlah negara, para ahli menjelaskan bahwa mekanisme gempa dapat ditelusuri melalui aktivitas sesar dan pergerakan lempeng, bukan melalui HAARP.

‎HAARP sendiri menjelaskan bahwa fasilitas tersebut berfokus pada penelitian ionosfer dan radio science. Fasilitas itu tidak dirancang untuk menghasilkan energi yang dapat memengaruhi kerak bumi dalam skala yang diperlukan untuk memicu gempa tektonik.

‎Bagaimana gempa tektonik sebenarnya terjadi?

‎Menurut BMKG, gempa tektonik terjadi akibat proses geologi yang berkaitan dengan pergerakan lempeng dan aktivitas sesar.

‎Indonesia berada di kawasan pertemuan beberapa lempeng tektonik besar. Pergerakan lempeng menyebabkan energi dan tekanan terakumulasi di dalam kerak bumi. Ketika tekanan tersebut melampaui kekuatan batuan, energi dilepaskan secara tiba-tiba dalam bentuk gelombang seismik yang kemudian dirasakan sebagai gempa bumi.

‎Dalam berbagai analisis gempa yang dilakukan BMKG, sumber gempa juga dapat diidentifikasi melalui lokasi episenter, kedalaman hiposenter dan mekanisme sumbernya.

‎Sebagai contoh, gempa Flores M7,7 pada 15 Agustus 2026 dianalisis BMKG sebagai gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas Flores Back-arc Thrust, sebuah struktur sesar naik yang memang memiliki potensi menghasilkan gempa besar.

‎Bagaimana dengan pernyataan Pongrekun?

‎Pernyataan Dharma Pongrekun mengenai gempa sebagai hasil engineering merupakan sebuah pandangan yang pernah disampaikan, tetapi pandangan tersebut tidak otomatis menjadi kesimpulan ilmiah.

‎Sejauh bukti ilmiah yang tersedia, belum ada dasar yang menunjukkan bahwa gempa tektonik secara umum merupakan hasil rekayasa manusia melalui HAARP.

‎Karena itu, masyarakat sebaiknya membedakan antara pernyataan tokoh, teori, dugaan, dan fakta ilmiah yang telah diverifikasi.

‎Perdebatan mengenai teknologi dan kemungkinan rekayasa gempa memang dapat menjadi bahan diskusi. Namun, untuk menyatakan bahwa suatu gempa tertentu sengaja dibuat atau dipicu oleh teknologi seperti HAARP, diperlukan bukti ilmiah yang kuat, terukur, dan dapat diverifikasi secara independen.

‎Hingga saat ini, bukti tersebut belum tersedia.

‎Dengan demikian, klaim bahwa HAARP menggunakan gelombang ELF untuk memanipulasi cuaca sekaligus dapat mengarahkan energi ke sesar dan memicu gempa tidak didukung bukti ilmiah yang kredibel. Sementara itu, penjelasan ilmiah mengenai gempa tektonik tetap mengacu pada proses pergerakan lempeng, deformasi batuan, dan aktivitas sesar.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *