Ban Dibakar, Botol Melayang, Tapi Polisi Tetap Tenang!” Kapolrestabes Medan Cegah Bentrokan Massa KBMN dengan Pendekatan Humanis

NEWS UPDATE
LIPUTAN
KPK .COM
P T .S U A R A W A R T A N U S A N T A R A
S W N
───────────────────────────────────

 

MEDAN – Liputankpk.com

Suasana tegang menyelimuti kawasan Jalan Imam Bonjol, Medan, Senin (22/6/2026). Ratusan mahasiswa dari Keluarga Besar Mahasiswa Nommensen (KBMN) turun ke jalan menuntut evaluasi sejumlah kebijakan nasional, mulai dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga revisi UU TNI/Polri. Namun, di tengah potensi eskalasi yang tinggi, aksi ini justru menjadi bukti nyata bagaimana pendekatan humanis dapat meredam amarah massa.

Sejak awal, Kapolrestabes Medan, Kombes Pol. Jean Calvijn Simanjuntak, turun langsung memantau lapangan. Ia memimpin 644 personel gabungan dari Polri, TNI, Satpol PP, dan Dishub dengan satu perintah tegas: “Tetap sabar, jangan terpancing, dan utamakan dialog.”

 

Detik-Detik Kritis: Api dan Botol Air Mineral
Situasi memanas ketika sebagian massa mencoba menerobos barikade, membakar ban, dan melemparkan botol air mineral ke arah petugas. Dalam situasi normal, hal ini bisa memicu bentrokan fisik. Namun, aparat di lapangan menahan diri. Mereka tidak membalas dengan kekerasan, melainkan terus membuka ruang komunikasi.

“Tugas kita adalah mengamankan sekaligus melayani masyarakat yang menyampaikan pendapat. Jangan biarkan emosi menguasai tugas,” tegas Kombes Jean Calvijn melalui pengeras suara, berulang kali mengingatkan personelnya untuk tetap profesional.

Rektor Jadi Pemicu, Dialog Jadi Obat
Ketegangan kembali memuncak saat massa mengetahui Rektor Universitas HKBP Nommensen berada di dalam Gedung DPRD Sumut. Kekecewaan mahasiswa akibat penolakan penggunaan atribut kampus sebelumnya membuat emosi mereka meluap.

Melihat celah tersebut, polisi tidak menggunakan gas air mata atau water cannon. Sebaliknya, mereka mendorong terjadinya dialog antara perwakilan mahasiswa dan anggota DPRD. Upaya ini akhirnya membuahkan hasil ketika Wakil Ketua DPRD Sumut, H. Salman Alfarisi, Lc., M.A., dan Anggota Komisi A, Irham Buana Nasution, S.H., M.Hum., bersedia menerima aspirasi mahasiswa.

Akhir yang Damai: Bukti Sinergi Aparat & Masyarakat
Meski pimpinan DPRD tidak hadir secara penuh, kehadiran wakil fraksi PKS dan Golkar berhasil menurunkan tensi. Dengan dikawal aparat yang tetap ramah namun waspada, massa akhirnya membubarkan diri secara tertib kembali ke kampus.

Aksi ini membuktikan bahwa penegakan hukum tidak harus selalu identik dengan kekerasan. Kombinasi antara kesabaran aparat, keterbukaan legislatif, dan kesadaran massa berhasil menciptakan ruang demokrasi yang aman dan kondusif di jantung Kota Medan.

Pewarta Warianto

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *