ACEH SINGKIL | Liputankpk.com ~ Penantian panjang puluhan tahun masyarakat Aceh Singkil untuk memiliki jembatan penghubung vital akhirnya berbuah manis. Melalui perjuangan gigih Bupati Aceh Singkil, H. Safriadi Oyon, S.H., Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (PUPR RI) secara resmi memastikan realisasi pembangunan Jembatan Kuala Baru sepanjang sekitar 200 meter.
Proyek strategis ini diproyeksikan mulai dibangun pada tahun 2025, atau paling lambat awal tahun 2026.
Jembatan Kuala Baru bukan sekadar infrastruktur biasa. Ia adalah urat nadi konektivitas yang akan menyingkap isolasi geografis, menghubungkan langsung Kabupaten Aceh Singkil dengan Aceh Selatan melalui jalur lintas provinsi yang selama ini hanya bisa dilalui menggunakan rakit penyeberangan tradisional. Kondisi ini telah menjadi hambatan utama bagi perekonomian dan mobilitas warga setempat.
Perjuangan Tak Kenal Lelah Bupati Safriadi Oyon:
Kabar gembira ini disampaikan langsung oleh Bupati Safriadi Oyon usai audiensi intensif dengan pihak Kementerian PUPR di Jakarta. Sejak menjabat sebagai Wakil Ketua DPRK Aceh Singkil, Safriadi Oyon telah menunjukkan komitmen luar biasa. Ia bahkan turut mendampingi Pj. Gubernur Aceh, Ahmad Marzuki, dan Pj. Bupati Aceh Singkil, Marthunis, pada tahun 2022 untuk meninjau langsung urgensi akses di Kuala Baru.
“Alhamdulillah, dengan undangan khusus saya kemarin melakukan kunjungan ke Kementerian PUPR RI untuk menyampaikan keluhan masyarakat yang puluhan tahun berharap agar jembatan ini dibangun. Pihak kementerian merespons positif, dan insya Allah akan dilaksanakan pembangunannya mulai tahun ini [2025]. Jika tidak, paling lambat tahun depan [2026],” jelas Safriadi Oyon dengan nada optimis pada Sabtu (5/7/2025).
Perjuangan ini juga mendapat dorongan kuat dari Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf (Mualem), yang secara khusus meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil untuk terus mengawal program strategis ini hingga ke tingkat pusat.
Dampak Multiplier dan Visi Kemajuan:
Lebih dari sekadar penghubung antarkabupaten, Jembatan Kuala Baru diproyeksikan menjadi komponen kunci Jalan Lintas Barat (Jalinbar) Aceh. Ini akan membuka gerbang transportasi darat yang lebih luas, tidak hanya di level provinsi, tetapi hingga ke Sumatera Utara, Sumatera Barat, bahkan Lampung, menciptakan koridor ekonomi baru di wilayah barat Sumatera.
Dampak positifnya meluas ke berbagai sektor:
Ekonomi & Logistik: Memudahkan pergerakan barang dan jasa, menurunkan biaya logistik, serta meningkatkan daya saing produk lokal Aceh Singkil. Masyarakat akan lebih mudah memasarkan hasil pertanian, perikanan, dan produk khas lainnya.
Pariwisata:
Aksesibilitas yang lebih baik akan mendorong pertumbuhan pariwisata, khususnya destinasi unggulan Kepulauan Banyak yang kian dilirik wisatawan mancanegara. Wisatawan akan lebih nyaman dan cepat mencapai surga tersembunyi ini, membuka peluang bagi pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif lokal.
Sosial & Budaya: Meningkatkan interaksi sosial antarwarga dari kedua kabupaten dan provinsi, mempercepat akses layanan publik, serta memperkaya pertukaran budaya.
“Jika akses ini terbuka, masyarakat bisa lebih mudah menjual produk lokal, memperkenalkan kuliner khas Aceh, dan mendatangkan wisatawan. Aceh Singkil fiskalnya masih rendah, sehingga infrastruktur penghubung seperti ini sangat kita butuhkan,” pungkas Safriadi Oyon, menegaskan urgensi proyek ini sebagai fondasi kebangkitan ekonomi daerah.
Dengan komitmen kuat dari pemerintah daerah dan dukungan penuh dari pusat, pembangunan Jembatan Kuala Baru akan menjadi tonggak sejarah, menandai era baru kemajuan dan konektivitas bagi Kabupaten Aceh Singkil dan wilayah sekitarnya.{*}
[Khalikul Sakda]












