Warga Budiluhur Minta Pemerintah Tindak Harga HET Tabung Gas di Pangkalan Aisyah Gas di Tengah Situasi Bencana Banjir dan Longsor
https://www.liputankpk.com/Budiluhur, Pandan — Di tengah suasana duka dan kesulitan akibat bencana alam banjir serta longsor yang melanda wilayah tapanuli tengah, warga kembali dibuat resah oleh persoalan harga tabung gas subsidi elpiji 3 kilogram yang diduga dinilai tidak sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) di pangkalan Aisyah Gas kelurahan budiluhur kecamatan pandan kabupaten tapanuli tengah senin.(8/12/2025).
Kondisi ini memicu keluhan dari masyarakat, yang meminta pemerintah turun tangan melakukan tindakan tegas.
Sejak bencana alam terjadi beberapa hari lalu, aktivitas warga terganggu—rumah terendam, akses jalan sulit, dan kebutuhan pokok ikut terdampak. Dalam situasi tersebut, kebutuhan gas untuk memasak justru menjadi salah satu kebutuhan utama yang sangat diandalkan. Namun, sejumlah warga mengaku harga gas di pangkalan Aisyah Gas dinilai tidak stabil dan cenderung lebih tinggi dari HET resmi.
“Kami sedang dalam masa sulit. Banjir dan longsor membuat kegiatan harian susah, tapi harga gas malah naik. Kami minta pemerintah cek dan tindak masalah ini,” ujar salah satu warga Budiluhur yang terdampak bencana alam.
Beberapa warga lain juga menyampaikan bahwa mereka sempat mengantri waktu yang panjang hingga malam hari namun merasa keberatan karena harga yang ditawarkan tidak sesuai aturan dan masih banyak yang tidak mendapatkan pembagian pasokan tabung gas hingga menimbulkan perbedaan penyaluran pengguna tabung gas. Bahkan, di tengah pasokan yang terbatas akibat terganggunya jalur distribusi pascabencana, warga khawatir ada dugaan pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan untuk memainkan harga.
“Situasi bencana ini bukan waktu untuk mencari keuntungan. Warga sedang dalam kondisi sulit. Kami mengharapkan pemerintah daerah melakukan sidak ke lapangan agar persoalan ini jelas dan tidak menambah beban masyarakat,” tegasnya salah satu warga yang enggan di sebut namanya.
Sementara itu, pihak pangkalan Aisyah Gas ketika dimintai keterangan menyebutkan bahwa pasokan yang masuk dari agen memang berkurang akibat kondisi banjir. Mereka mengklaim bahwa harga tetap mengacu pada HET, namun tidak menutup kemungkinan terjadi kesalahpahaman di lapangan.
“Pasokan kami menurun karena pengiriman dari agen terganggu. Tetapi kami tetap menjual sesuai ketentuan. Bila ada laporan berbeda, kami siap diperiksa,” ujar salah satu pekerja pangkalan.
Warga berharap pemerintah kabupaten, Disperindag, dan aparat penegak hukum segera melakukan pengecekan langsung serta memberikan tindakan apabila ditemukan pelanggaran harga. Di tengah situasi bencana, masyarakat hanya ingin mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga wajar tanpa rasa khawatir.
Bencana banjir dan longsor yang terjadi sejak awal pekan ini setidaknya telah menimpa puluhan rumah,dan korban jiwa serta menyulitkan aktivitas ekonomi warga. Karena itu, kepastian harga gas dan ketersediaan pasokan menjadi hal vital yang sangat diharapkan.
Tim: media liputan kpk












