BAYUNG LENCIR – 29-05-2026 ,Kecamatan Bayung Lencir musi banyuasin menyimpan kekayaan budaya yang menjadi identitas sekaligus kebanggaan masyarakat setempat, salah satunya adalah tradisi asli yang terus dijaga oleh suku Marga Bayat. Marga Bayat merupakan suku asli yang mendiami wilayah Kecamatan Bayung Lencir, dengan persebaran wilayah yang mencakup tujuh desa, yaitu Desa Pagar Desa, Desa Pengkalan Bayat, Desa Bayat Ilir, Desa Simpang Bayat, Desa Telang, Desa Sindang Marga, dan Desa Tampang Baru.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan zaman, masyarakat Marga Bayat tetap teguh melestarikan warisan budaya leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu tradisi yang masih lestari dan sangat lekat dengan kehidupan masyarakat adalah tradisi pengobatan kampung yang dikenal dengan nama Besale atau Berenta.
Untuk menelusuri lebih dalam mengenai tradisi ini, awak media berkesempatan menemui Pembina Adat Marga Bayat, Bapak Mahyudi, yang berdomisili di Desa Telang. Dalam penjelasannya, ia menyampaikan bahwa Besale atau Berenta merupakan sebuah tradisi pengobatan yang dikhususkan untuk menangani penyakit-penyakit yang bersifat non-medis. Masyarakat setempat memiliki keyakinan kuat bahwa tradisi ini mampu menyembuhkan berbagai jenis penyakit atau gangguan yang tidak dapat dijelaskan secara medis.
Lebih dari sekadar pengobatan fisik, Besale atau Berenta memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Bagi masyarakat Marga Bayat, prosesi ini menjadi sarana untuk menjalin hubungan dengan para leluhur, sekaligus bentuk permohonan doa dan harapan agar diberikan kesembuhan oleh Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa.
Menurut penuturan Bapak Mahyudi, pelaksanaan tradisi ini tidak memiliki aturan yang kaku atau sama setiap saat. Ada hal yang sangat mendasar yang harus diperhatikan, yaitu persiapan bahan-bahan dan perlengkapan yang akan digunakan.
“Sangat banyak sekali jenis bahan yang harus disiapkan, dan pemilihannya pun disesuaikan sepenuhnya dengan jenis serta kondisi penyakit atau gangguan yang sedang dialami oleh warga,” ungkap Bapak Mahyudi.
Ada penyakit atau gangguan yang hanya memerlukan bahan-bahan sederhana, namun untuk kasus yang lebih berat atau rumit, persiapan yang dilakukan jauh lebih lengkap dan beragam. Mulai dari berbagai jenis tanaman obat, bunga-bungaan, kemenyan, air yang telah disucikan, hingga perlengkapan adat lainnya. Semua pemilihan dan penyusunan bahan tersebut dilakukan berdasarkan pengetahuan dan tata cara adat yang diwariskan turun-temurun, agar proses penyembuhan berjalan lancar dan tujuannya tercapai.
Bagi masyarakat Marga Bayat, menjaga tradisi Besale bukan hanya soal pengobatan, melainkan sebuah bentuk penghormatan terhadap leluhur dan upaya menjaga jati diri budaya di tengah kemajuan zaman.












