Krisis Listrik Picu Kelangkaan Air Bersih di Bayung Lencir, Operasional RSUD Terancam Lumpuh

NEWS UPDATE
LIPUTAN
KPK .COM
P T .S U A R A W A R T A N U S A N T A R A
S W N
───────────────────────────────────

Bayung Lencir, 4 Juni 2026 – Masyarakat Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, kini menghadapi dua masalah mendesak yang saling berkaitan: ketidakstabilan pasokan listrik PLN yang berlangsung berbulan-bulan, yang kemudian memicu krisis air bersih yang semakin parah selama hampir dua minggu terakhir. Kondisi ini berdampak luas, mulai dari mengganggu kehidupan rumah tangga, melumpuhkan aktivitas usaha, hingga mengancam keselamatan pelayanan kesehatan di RSUD Bayung Lencir.

Berdasarkan konfirmasi yang diperoleh awak media, permasalahan ini bermula dari insiden kebakaran trafo di kawasan PLTU. Akibat peristiwa tersebut, tegangan listrik yang disalurkan PLN turun jauh di bawah standar 220 volt dan menjadi sangat tidak stabil. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi sistem distribusi air, tetapi juga mengganggu kinerja berbagai peralatan di seluruh wilayah.

Pihak PDAM Bayung Lencir membenarkan bahwa mereka tidak dapat menyalurkan air secara maksimal karena tegangan listrik yang rendah membuat mesin pompa air tidak mampu beroperasi dengan baik. Meskipun pihak PDAM telah berupaya berkoordinasi dengan PLN, Camat, Polsek, dan unsur masyarakat, hingga saat ini proses perbaikan masih berlangsung secara bertahap dan belum memulihkan kondisi normal.

Warga merasakan dampak langsung dari ketidakstabilan listrik ini. Berbagai peralatan elektronik rumah tangga seperti kulkas, kipas angin, dan pompa air milik warga tidak dapat berfungsi secara optimal. Akibatnya, makanan cepat rusak dan kebutuhan dasar sehari-hari menjadi terganggu. Kondisi semakin memburuk dengan terhentinya total pasokan air bersih dari PDAM selama hampir dua minggu. Warga kesulitan berat memenuhi kebutuhan mandi, mencuci, memasak, dan sanitasi. Bahkan para pedagang dan pelaku usaha pun mengalami kerugian besar karena aktivitas mereka terhenti total.

“Kami sangat menderita. Listrik redup membuat alat-alat di rumah tidak berguna, dan sekarang air bersih pun sulit didapat. Ini sudah berlangsung lama dan sangat memberatkan kehidupan kami,” ujar salah seorang warga.

Ancaman paling serius terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Bayung Lencir. Ketidakstabilan arus listrik membuat peralatan medis vital seperti alat ruang rawat intensif, unit gawat darurat, laboratorium, dan ruang penyimpanan obat tidak dapat beroperasi dengan aman. Saat terjadi pemadaman total, rumah sakit hanya mengandalkan genset yang kapasitasnya sangat terbatas.

Belum lagi, krisis air bersih yang terjadi membuat situasi semakin genting. Padahal, rumah sakit dengan kapasitas tempat tidur penuh membutuhkan lebih dari 50.000 liter air bersih setiap harinya untuk kebutuhan medis, kebersihan, dan perawatan pasien. Saat ini, RSUD hanya mengandalkan bantuan sekitar 5 tangki air per hari dari Manggala Agni dan Dinas Pemadam Kebakaran, yang jumlahnya jauh dari cukup.

“Kondisi ini sangat membahayakan nyawa pasien. Operasi sempat tertunda, hasil pemeriksaan tidak akurat, dan kami terpaksa merujuk pasien karena tidak berani mengambil risiko saat listrik tidak stabil. Ditambah lagi kekurangan air bersih, pelayanan kami nyaris lumpuh. Ini bukan sekadar masalah teknis, tapi soal keselamatan manusia,” tegas perwakilan tim pemeliharaan RSUD.

Melihat dampak yang semakin meluas, masyarakat dan pihak RSUD secara tegas menuntut PLN segera bertindak cepat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pasokan listrik. Mereka meminta:

1. Melakukan perbaikan total dan menyelesaikan proses pemulihan jaringan listrik agar tegangan kembali stabil sesuai standar 220 volt;
2. Menjamin pasokan listrik yang andal, khususnya untuk fasilitas vital seperti RSUD dan instalasi PDAM;
3. Mempercepat tahapan pemulihan agar tidak berlarut-larut dan merugikan banyak pihak.

Selain itu, masyarakat juga mendesak perhatian serius dari pemerintah mulai tingkat Kecamatan Bayung Lencir, Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin beserta Bupati, hingga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk turun tangan memantau, mengawasi, dan memastikan PLN bekerja secara maksimal.

“Krisis ini berawal dari gangguan listrik yang belum kunjung selesai. Kami menuntut PLN tidak menunda perbaikan. Kami juga meminta pemerintah daerah tidak tinggal diam, karena ini adalah hak dasar warga. Jika dibiarkan, dampaknya akan semakin fatal bagi kesehatan dan perekonomian Bayung Lencir,” tegas perwakilan masyarakat.

Hingga berita ini diturunkan, awak media telah berusaha meminta penjelasan resmi secara rinci kepada pihak manajemen PLN terkait jadwal pasti pemulihan dan langkah antisipasi ke depannya, namun belum mendapatkan tanggapan yang akurat dan jelas. Pihak media terus berupaya berkoordinasi dengan instansi terkait guna mendapatkan informasi terbaru.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *