Al-Qur’an Dibakar, Umat Islam tidak mengurangi rasa ingin membaca ,dan memperlombakannya,,

NEWS UPDATE
LIPUTAN
KPK .COM
P T .S U A R A W A R T A N U S A N T A R A
S W N
───────────────────────────────────

Kayong Utara Kalbar – Liputankpk.com – Al-Qur’an itu unik. Ada membacanya, menghafalnya, memahaminya, menelitinya, melombakannya. Ada pula yang membakarnya lalu merasa sudah menghancurkan Islam. Ini seperti membakar buku matematika lalu mengira angka 7 ikut mati. Wak, santai. Yang terbakar kertasnya, bukan imannya. Kebetulan MTQ Kalbar baru saja dimulai, ada baiknya kita bicara kitab suci umat Islam itu. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Di Indonesia, pengagungan terhadap Al-Qur’an sudah menjadi tradisi besar. MTQ pertama kali dilembagakan secara nasional pada 1968 oleh Menteri Agama K.H. Muhammad Dahlan di Makassar. Hingga 2024, MTQ Nasional telah berlangsung 29 kali, dengan cabang Hifdz Al-Qur’an, Fahm Al-Qur’an, Syarh Al-Qur’an, kaligrafi, hingga karya ilmiah.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Di Kalimantan Barat, MTQ XXXIV baru saja dibuka, digelar di Pelataran Sail Selat Karimata, Pantai Pulau Datok, Kayong Utara. Kontingen dari 14 kabupaten dan kota hadir sebagai para juara hasil seleksi daerah. Ada Malam Ta’aruf, Pawai Ta’aruf, defile, tarian kolosal, dan pembukaan dari malam hingga pagi. Sekitar 1.136 peserta, official, dewan hakim, dan panitia ikut meramaikan. Tema yang diusung, “Merajut Ukhuwah, Menebar Dakwah, Membumikan Al-Qur’an di Tanah Betuah Menuju Kalimantan Barat Semakin Berkah”, dengan maskot Senggayong. UMKM lokal pun ikut bergerak.

Tradisi khataman juga hidup. Di Kalbar ada Betamat Quran dengan nasi ketan di atas talam sebagai simbol syukur. Di Pondok Pesantren Madrasah Huffadz Krapyak ada tarawih juziyyah dengan target khatam selama Ramadan.

Indonesia juga punya warna tilawah sendiri. Langgam Misri dan sebelumnya Makkawi sangat memengaruhi gaya membaca Al-Qur’an. Arab Saudi lebih banyak menggunakan murattal yang sederhana dan cepat. Perbedaan ini antara lain berkaitan dengan tradisi mazhab: Hanbali dan Maliki lebih ketat terhadap pelaguan berlebihan, sementara Syafi’i dan Hanafi lebih longgar.

Nuzulul Quran di Indonesia sering diperingati pada 17 Ramadan dengan tradisi seperti Seribu Tumpeng di Solo dan Kuwah Beulangong di Aceh. Di negara-negara Arab, peringatan lebih berfokus pada i’tikaf dan doa, terutama malam-malam Ramadan. MTQ pun sudah mendunia. Malaysia menjadi pionir MTQ Antar-Bangsa sejak 1960-an, sementara Arab Saudi, Iran, Mesir, dan India rutin mengundang delegasi Indonesia.

Al-Qur’an juga terus dikaji secara ilmiah. Seorang peneliti mengumpulkan 77 mukjizat ilmiah dalam bidang astronomi, kebumian, biologi, dan fisika, serta menyatakan kemungkinan semuanya terjadi secara kebetulan hampir nol. Konferensi internasional di Dubai pernah dihadiri lebih dari 20 ilmuwan non-Muslim dari Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Jepang, dan Australia.

Kajian Al-Qur’an masuk universitas. UIN Sumatera Utara mengaitkannya dengan Biologi, Fisika, Astronomi, dan Matematika. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menerima 14 seri Tafsir Ilmi Ayat-Ayat Sains hasil kolaborasi Kementerian Agama dan LIPI. Kajian lainnya membahas kapitalisme, keadilan, politik uang, gratifikasi, zakat, wakaf, distribusi kekayaan, perbandingan dengan Veda, hingga narasi banjir dalam Al-Qur’an dan Bibel.

Tetapi munul sebuah ironi. Data Kementerian Agama tahun 2020 mencatat penghafal Al-Qur’an 30 juz di Indonesia sekitar 30.000 orang, atau hanya 0,01 persen dari jumlah penduduk saat itu. Negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia ternyata jumlah hafiz 30 juznya masih sangat kecil jika dibandingkan jumlah penduduk.

Meski belum ada angka nasional pasti mencakup seluruh negeri, berbagai laporan menunjukkan jumlah hafiz terus meningkat. Pesantren elTAHFIDH Indonesia pada 2026 mewisuda 170 hafiz-hafizah 30 juz. Pesantren Bina Insan Mulia 2 Cirebon mencatat 143 dari 356 santri berhasil menghafal 30 juz melalui program akselerasi. Program Hafiz Indonesia di RCTI juga ikut mempopulerkan semangat menghafal.

Namun ada tamparan berikutnya. Sebuah asesmen literasi Al-Qur’an memperkirakan 72,25 persen masyarakat Indonesia belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Hanya sekitar 25 persen umat Islam Indonesia yang disebut fasih membacanya.

Nah, ini baru ironi level premium. Kita bisa bangga dengan MTQ, hafiz, kaligrafi, konferensi, dan penelitian. Tetapi fondasinya jangan sampai masih bolong. Mau mencetak hafiz sebanyak-banyaknya, membaca saja belum lancar.

Jangan sampai kita sibuk mencari orang yang hafal 30 juz, sementara tetangga sebelah masih mengeja huruf hijaiyah sambil menatap tajwid seperti menatap soal ujian CPNS.

Lalu muncullah manusia yang tampaknya kehabisan argumen dan menemukan korek api.

Agustus 2025, Valentina Gomez membakar Al-Qur’an dengan penyembur api. Salwan Momika membakar dan menginjak-injak Al-Qur’an di Stockholm pada 2023. November 2025, Jake Lang mencoba membakarnya di Dearborn lalu melakukan penodaan menggunakan kepala babi di depan masjid di Plano. Rasmus Paludan berulang kali membakar Al-Qur’an di Swedia pada 2022–2023. Edwin Wagensveld melakukan aksi serupa di Amsterdam serta merobek halaman Al-Qur’an pada 2023 dan 2025. Desember 2025, Al-Qur’an dirantai di pagar Masjid Raya Stockholm dengan enam lubang peluru dan pesan rasis.

Motifnya antara lain provokasi, politik identitas, dan akar personal-geopolitik. Polanya sederhana, bakar Al-Qur’an, tunggu umat marah, rekam, lalu jual narasi bahwa Muslim brutal. Ini bukan debat. Ini konten murahan dengan bensin sebagai properti utama.

OKI yang beranggotakan 57 negara mengecam. Al-Azhar menyebutnya provokasi terencana. Iran dan Yaman juga mengecam. Di berbagai negara, persoalan hukumnya bersinggungan dengan kebebasan berbicara, ujaran kebencian, ketertiban, hingga penghujatan.

Tetapi umat Islam tidak perlu minder. Justru bangga, sambil introspeksi. Bangga karena Al-Qur’an terus hidup dalam MTQ, pesantren, kampus, penelitian, tradisi, dan jutaan hati. Introspeksi karena pekerjaan rumahnya juga nyata, memperbanyak hafiz, memperkuat kemampuan membaca, memahami, dan mengamalkan.

Sebab membakar Al-Qur’an tidak akan membunuh Al-Qur’an. Kertas bisa dibakar. Hafalan tidak. Buku bisa dirusak. Iman tidak.

Mereka punya korek api. Umat Islam punya Al-Qur’an. Tugas kita bukan sibuk mengejar asapnya. Tugas kita memastikan Al-Qur’an semakin banyak dibaca, dihafal, dipahami, dan hidup dalam perilaku.

Sebab kemenangan terbesar bukan ketika pembenci berhenti membakar. Kemenangan terbesar adalah ketika umat Islam sendiri tidak pernah berhenti mencintai Al-Qur’an. ( Mulyadi )

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *