Bukan Sekadar Jago Jual Rumah, Begini Cara Sales Properti Menghadapi Keberatan Customer

Dokumentasi LiputanKPK.com
NEWS UPDATE
LIPUTAN
KPK .COM
P T .S U A R A W A R T A N U S A N T A R A
S W N
───────────────────────────────────

Kota Bogor, Jawa Barat || LiputanKPK.com
‎Menjadi sales properti bukan sekadar mampu menjelaskan harga, fasilitas, lokasi, hingga promo rumah. Salah satu kemampuan paling penting yang justru kerap diabaikan adalah bagaimana membangun komunikasi sejak pertemuan pertama dan menangani keberatan atau objection dari calon customer. Jumat, 04/09/2026.

‎Dalam praktiknya, tidak sedikit sales yang merasa sudah hebat karena mampu berbicara panjang lebar mengenai produk. Padahal, kemampuan berbicara belum tentu sama dengan kemampuan menjual.

‎Kesalahan sering terjadi ketika sales langsung melakukan hard selling begitu bertemu calon pembeli. Harga, cicilan, promo, hingga bonus langsung disampaikan tanpa terlebih dahulu memahami kebutuhan customer.

‎Padahal, perjumpaan awal merupakan tahap penting dalam proses penjualan.

‎Sales seharusnya membangun hubungan terlebih dahulu, menciptakan rasa nyaman, kemudian menggali kebutuhan calon pembeli melalui pertanyaan yang tepat.

‎Misalnya, sebelum menawarkan rumah, sales dapat menanyakan tujuan customer membeli properti.

‎Apakah untuk tempat tinggal, investasi, disewakan, atau memang sedang mencari rumah pertama?

‎Dari jawaban tersebut, sales dapat menentukan pendekatan yang sesuai.

‎Jangan Langsung Membantah Keberatan Customer

‎Salah satu kesalahan umum dalam menghadapi customer adalah langsung membantah ketika muncul keberatan.

‎Customer mengatakan, “Harganya mahal.”

‎Sales justru menjawab, “Enggak mahal, Pak. Di tempat lain malah lebih mahal.”

‎Respons seperti itu berpotensi membuat customer merasa pendapatnya tidak dihargai.

‎Dalam basic salesmanship, keberatan seharusnya tidak langsung dilawan. Sales perlu mendengarkan, mengklarifikasi, kemudian mencari tahu alasan sebenarnya di balik keberatan tersebut.

‎Harga mahal bisa berarti banyak hal.

‎Bisa karena kemampuan cicilan terbatas, belum melihat manfaat produknya, membandingkan dengan proyek lain, belum yakin terhadap legalitas, belum mendapatkan persetujuan pasangan, atau memang belum memiliki urgensi untuk membeli.

‎Artinya, kalimat “mahal” bukan selalu penolakan. Bisa jadi itu adalah pintu untuk menggali kebutuhan customer lebih dalam. Seni Bertanya Justru Lebih Penting daripada Banyak Bicara

‎Sales properti yang baik bukan yang paling banyak berbicara, tetapi yang mampu mengajukan pertanyaan yang tepat. Customer perlu diberikan ruang untuk berbicara.

‎Sales dapat menggunakan pertanyaan sederhana seperti ‎”Rumah ini rencananya untuk ditempati sendiri atau investasi?”

‎”Kalau boleh tahu, Bapak/Ibu sudah menentukan kisaran budget?”  “Yang paling penting bagi Bapak/Ibu dalam memilih rumah apa, lokasi, cicilan, atau fasilitas?”

‎Pertanyaan tersebut membantu sales memahami buying motive atau alasan utama customer membeli. Setelah kebutuhan diketahui, barulah produk ditawarkan sebagai solusi.

‎Basic Salesmanship yang Sering Terlupakan

‎Ilmu dasar penjualan sebenarnya tidak hanya berbicara tentang teknik closing.

‎Ada beberapa fondasi yang harus dikuasai sales, mulai dari membangun rapport, menggali kebutuhan, mendengarkan secara aktif, mengidentifikasi keberatan, memberikan solusi, menangani keraguan, hingga melakukan follow up.

‎Sales juga harus mampu membedakan antara objection dan rejection.

‎Keberatan belum tentu berarti customer menolak.

‎Customer yang bertanya mengenai harga, cicilan, legalitas, lokasi, atau fasilitas justru masih menunjukkan ketertarikan. Tugas sales adalah mencari tahu apa yang membuat customer belum yakin.

‎Mentor Sales Juga Harus Terus Belajar

‎Persoalan lain yang kerap muncul dalam dunia penjualan adalah ketika seorang sales mendapatkan ilmu hanya berdasarkan pengalaman pribadi, kemudian pengalaman tersebut diajarkan kembali kepada sales lainnya tanpa fondasi teori yang kuat.

‎Pengalaman tentu penting. Namun, pengalaman pribadi tidak otomatis menjadi standar teknik penjualan yang benar.

‎Seorang mentor yang berhasil menjual banyak unit belum tentu memiliki kemampuan mengajarkan proses penjualan secara sistematis. Begitu pula sales yang memiliki pengalaman bertahun-tahun belum tentu seluruh teknik yang digunakannya tepat untuk semua situasi.

‎Karena itu, sales perlu terus belajar mengenai psikologi konsumen, komunikasi, sales funnel, objection handling, negosiasi, hingga teknik closing.

‎Jangan merasa hebat hanya karena sudah lama menjadi sales.

‎Dunia penjualan terus berubah. Customer semakin kritis, semakin mudah membandingkan proyek, dan memiliki akses informasi yang jauh lebih luas.

‎Sales yang hanya mengandalkan gaya bicara dan pengalaman masa lalu akan semakin sulit menghadapi customer modern.

‎Pada akhirnya, kemampuan menjual bukan tentang siapa yang paling pintar berbicara, melainkan siapa yang paling mampu memahami customer, menemukan kebutuhannya, memberikan solusi, dan membangun kepercayaan.

‎Itulah basic salesmanship yang seharusnya menjadi fondasi setiap sales properti sebelum berbicara tentang target, closing, maupun komisi.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *