Humbahas-liputankpk.com
Bupati Humbang Hasundutan, Dr. Oloan Paniaran Nababan, SH, MH mengapresiasi penyelenggaraan Forum Group Discussion (FGD) Penguatan Agroforestry dan Hilirisasi Kemenyan, Nilam dan Damar, Hilirisasi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang merupakan salah satu hasil Hutan di Kabupaten Humbang Hasundutan.
Apresiasi dan terimakasih ini disampaikan pada FGD bertajuk Penguatan Ekosistem Agroforestry dan Hilirisasi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dilaksanakan secara melalui vodeo conference (vidcon) Rabu 3 Juni 2026.
Bupati juga menyampaikan bahwa daerah Humbang Hasundutan memiliki potensi besar pada sektor kehutanan dan agroforestry. Komoditas unggulan seperti kemenyan, nilam, kopi, andaliman, serta berbagai hasil hutan bukan kayu lainnya dinilai tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai ekologis, sosial, budaya, dan historis bagi masyarakat setempat.
Kemenyan telah menjadi identitas dan warisan budaya masyarakat Batak sejak lama. Karena itu, pengelolaan HHBK harus dilakukan secara berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian hutan, tidak semata-mata berorientasi pada peningkatan produksi.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Humbang Hasundutan, luas areal perkebunan kemenyan mencapai 5.547,70 hektare dengan produksi sekitar 1.173,95 ton. Sementara itu, tanaman nilam memiliki luas areal 122,50 hektare dengan produksi mencapai 109,93 ton. Data tersebut menunjukkan besarnya potensi HHBK yang dapat dikembangkan sebagai penggerak ekonomi daerah.
Menurut Bupati, penguatan ekosistem agroforestry merupakan langkah strategis untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi kemiskinan, melestarikan hutan, serta menciptakan lapangan kerja baru berbasis potensi lokal. Ia juga menyoroti masih rendahnya nilai tambah produk HHBK karena sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
Untuk itu, pemerintah daerah mendorong pembangunan industri pengolahan, peningkatan kualitas produk, perluasan akses pasar, serta penerapan sertifikasi dan standardisasi agar produk HHBK Humbang Hasundutan mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pertanian Kadin Indonesia, Devi Rachmawati dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah pusat, dunia usaha, akademisi, dan organisasi profesi. Devi Erna Rachmawati, MBA., Ph.D menekankan perlunya integrasi ekosistem dari hulu hingga hilir untuk meningkatkan nilai tambah dan posisi tawar petani di pasar global.
Pada kesempatan itu juga Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Perekonomian, Pariwisata, Dan Transformasi Digital Sekretariat Wakil Presiden RI, Dyah Kusumastuti menyampaikan pentingnya pengelolaan HHBK sebagai instrumen pembangunan ekonomi yang tetap menjaga fungsi ekologis dan keberlanjutan lanskap hutan.
Narasumber berikutnya Prof. Dr. Arida Susilowati (Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara) menjelaskan peran strategis agroforestry dalam menciptakan keseimbangan antara kebutuhan produksi ekonomi dengan konservasi lingkungan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Hadir dari Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan, Asisten Pembangunan dan Perekonomian Martogi Purba, Kadis Kopenaker Nurliza Pasaribu, Kadis Pertanian Tukka Siahaan, Kadis Kominfo Adrianus Mahulae dan staf lainnya. (Erikson)












