Singkil, Aceh | LiputanKPK.com ~ Suasana hangat namun penuh komitmen menyelimuti Polsek Singkil pada Selasa, 28 Oktober 2025, saat Kapolres Aceh Singkil, AKBP Joko Triyono SIK. MH., didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Aceh Singkil, melakukan kunjungan kerja. Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan ajang konsolidasi program strategis Polri yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, dari ketahanan pangan hingga pemberantasan kejahatan.
Sambutan Hangat dan Kondisi Aman Terkendali
Kapolsek Singkil, IPTU Akhirullah, dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada rombongan. Ia melaporkan bahwa wilayah hukum Polsek Singkil dalam keadaan aman dan kondusif, sebuah kondisi yang diharapkan terus terjaga menjelang pemilihan Kepala Mukim dan Pilchiksung yang akan datang. Turut hadir dalam acara penting ini adalah Ketua MPU Aceh Singkil, Anggota DPRK, Danramil 0109/02 Singkil, Camat Singkil, KUA, para Mukim, serta Kepala Desa se-Kecamatan Singkil dan para tamu undangan lainnya.
AKBP Joko Triyono: Profil Singkat dan Visi Strategis
Dalam pidato perkenalannya yang diselingi kisah perjalanan hidup, AKBP Joko Triyono SIK. MH. berbagi latar belakangnya. Lulusan Akpol 2002 asal Ngawi, Jawa Timur, ini memiliki rekam jejak panjang di berbagai Polda, mulai dari Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah (termasuk Poso dan Morowali), Bangka Belitung, hingga Kalimantan Tengah. Pengalaman luasnya ini menjadi modal penting dalam mengemban amanah di Aceh Singkil. “Saya sudah hampir 6 bulan di sini, berkeliling melihat potensi dan situasi seluruh Polsek, termasuk pulau-pulau,” ujarnya.
Dua Pilar Program Presiden yang Disukseskan Polri
Kapolres menekankan dua program utama yang menjadi fokus Polri, sebagai bagian dari “Asta Cita” delapan program Presiden:
1. Penguatan Ketahanan Pangan (Komoditas Jagung): Polri mengambil peran vital dalam mewujudkan swasembada jagung. AKBP Joko Triyono menjelaskan upaya kolaboratif dengan dinas terkait, masyarakat, pemerintah, TNI, hingga kelompok tani. “Meskipun sempat gagal di awal dengan 4 hektar penanaman jagung bersama PT Sokfindo, kami belajar dan berinovasi,” ungkapnya. Kini, berkat kerja sama dengan kelompok tani di Rimo dan PT Soppindo, 1 hektar jagung yang ditanam pada Juli lalu diharapkan panen di Desember dengan target 5-6 ton. “Ini bisa membantu meningkatkan pendapatan masyarakat, kami bahkan sudah berhasil menjual 1 ton 100 kg ke Bulog dengan harga Rp6.400/kg,” tambahnya. Ia mengajak pemerintah kecamatan, Babinsa, dan kepala desa untuk mendorong masyarakat memanfaatkan anggaran 0% untuk pangan.
2. Pemberantasan Narkoba dan Judi (Termasuk Judi Online): Polri berkomitmen penuh memberantas dua kejahatan ini. Dengan kemajuan teknologi, judi kini tak hanya manual tetapi juga daring. “Kami sudah mengungkap kasus judi online di Aceh Singkil, dan ini perlu kerja sama semua pihak agar masyarakat tidak terjerumus,” tegas Kapolres.
Restorative Justice: Solusi Cerdas di Tingkat Desa
AKBP Joko Triyono juga menyoroti komitmen Polri untuk mengedepankan Restorative Justice atau Problem Solving. “Apabila ada permasalahan ringan yang diatur dalam Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008, kepala desa memiliki kewenangan menyelesaikan 18 jenis perkara di tingkat gampong,” jelasnya. Kasus seperti perselisihan rumah tangga, sengketa hak milik, pencurian ringan, hingga penganiayaan ringan, diharapkan dapat diselesaikan tanpa harus ke meja hijau, mencegah dendam dan konflik sosial.
Sinergi Mencegah, Penegakan Hukum Sebagai Opsi Terakhir
Mengingatkan fungsi utama Polri dalam memelihara kamtibmas, melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, dan barulah penegakan hukum sebagai opsi terakhir, Kapolres mengajak seluruh elemen masyarakat. “Kita harus bekerja sama secara preventif dan preemtif. Apabila ada informasi dini yang berpotensi menimbulkan masalah, segera sampaikan ke Babinkamtibmas atau Babinsa agar bisa diselesaikan sejak dini,” harapnya.
Aspirasi dari Kepala Desa: Tantangan dan Harapan
Mewakili para kepala desa, Yasmi Darliansyah, Kepala Desa Pulo Sarok, menyampaikan apresiasi atas sinergitas yang terjalin baik dengan kepolisian, khususnya peran aktif Bhabinkamtibmas. Ia menyoroti beberapa harapan dan tantangan:
1. Berantas Pukat Harimau: Yasmi menyampaikan terima kasih atas penangkapan pelaku pukat harimau yang sangat merugikan nelayan setempat, khususnya di Pulo Sarok.
2. Perhatian Serius pada Kenakalan Remaja: Ini menjadi persoalan pelik, di mana anak di bawah umur seringkali merasa “kebal hukum” akibat kecanggihan teknologi dan media sosial. “Kami butuh ketegasan dan pola koordinasi dari kepolisian,” pintanya.
3. Dukungan Penuh Berantas Miras dan Prostitusi Terselubung: Keresahan masyarakat terkait peredaran miras jenis tuak dan keberadaan “ladies” atau pemandu karaoke di pantai sudah mencapai puncaknya. “Kami sudah musyawarah desa dan bahkan melakukan razia, namun kami butuh dukungan penuh dari Kapolres, Muspika, dan unsur lain ketika berhadapan dengan oknum yang di luar batas kemampuan kami,” tegas Yasmi, berharap murka Allah tidak menimpa seluruh masyarakat akibat perbuatan tersebut.
Kunjungan kerja ini menegaskan komitmen Polri untuk semakin dekat dengan masyarakat, tidak hanya dalam penegakan hukum, tetapi juga sebagai motor penggerak pembangunan dan penjaga moralitas sosial. Sinergi antara pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat adalah kunci utama dalam mewujudkan Aceh Singkil yang aman, makmur, dan berdaya saing.{*}
[Khalikul Sakda]












