Kabupaten Subang, Jawa Barat || LiputanKPK.com
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM mewacanakan pemeriksaan urine bagi seluruh siswa SMA dan SMK di Jawa Barat. Langkah tersebut disiapkan sebagai upaya deteksi dini terhadap pelajar yang diduga menyalahgunakan atau mengalami ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang maupun obat sediaan farmasi yang disalahgunakan.
Wacana pemeriksaan urine massal itu mencuat setelah terungkapnya kasus begal sadis di Kabupaten Subang. Dua pelaku berinisial FS dan LHZ diketahui telah mengonsumsi obat sediaan farmasi seperti tramadol dan heximer sejak masih duduk di kelas XI SMK.
Keduanya bahkan disebut nekat melakukan aksi pembegalan untuk mendapatkan uang yang kemudian digunakan membeli obat-obatan tersebut.
Dedi Mulyadi menyampaikan rencana pemeriksaan tersebut saat menghadiri konferensi pers pengungkapan kasus begal di Mapolres Subang, Senin (10/8/2026).
“Tes tersebut dilakukan untuk pengujian dan mendeteksi penyalahgunaan atau ketergantungan obat sediaan farmasi,” ujar Dedi.
Menurut Dedi, pemeriksaan urine menjadi salah satu langkah untuk mengetahui sejak dini apakah terdapat pelajar yang telah mengonsumsi atau mengalami ketergantungan terhadap obat-obatan tersebut.
Ia menilai deteksi dini sangat penting agar pelajar yang sudah mengalami ketergantungan dapat segera mendapatkan penanganan sebelum persoalannya berkembang lebih jauh.
“Nanti yang sudah kecanduan obat sediaan farmasi akan kita kirim ke rehab. Sehingga para pelajar yang kecanduan bisa diselamatkan sejak dini,” kata Dedi.
Cegah Pelajar Terjerumus ke Kejahatan
Dedi berharap langkah tersebut dapat mencegah kasus serupa terulang di kemudian hari.
Menurutnya, penyalahgunaan obat-obatan di kalangan pelajar tidak hanya berdampak terhadap kesehatan dan masa depan mereka, tetapi juga berpotensi mendorong munculnya tindak kriminal.
Kasus begal di Subang menjadi salah satu contoh ketika ketergantungan obat disebut berkaitan dengan tindakan kriminal yang dilakukan pelaku untuk mendapatkan uang demi membeli obat.
Karena itu, penanganan tidak cukup hanya dilakukan melalui penindakan hukum terhadap pelaku kejahatan. Pencegahan dan rehabilitasi terhadap pelajar yang telah terpapar penyalahgunaan obat juga dinilai penting.
Warung hingga Kedai Kopi Ikut Diawasi
Selain menyasar pelajar, Dedi Mulyadi juga meminta seluruh elemen masyarakat ikut berperan aktif mengawasi peredaran obat-obatan terlarang di lingkungan masing-masing.
Ia secara khusus meminta kepala desa, RT, Bhabinkamtibmas, hingga Babinsa memperketat pengawasan terhadap warung-warung yang berpotensi menjadi lokasi peredaran obat terlarang maupun minuman keras.
“Awasi dan periksa warung-warung di desa, pastikan tidak menjual miras dan obat-obatan terlarang,” tegasnya.
Dedi juga mengingatkan masyarakat untuk tidak terkecoh dengan tempat usaha yang dari luar terlihat seperti warung kopi biasa.
Menurutnya, terdapat kemungkinan usaha yang mengatasnamakan warung kopi justru digunakan sebagai kedok untuk menjual obat sediaan farmasi yang disalahgunakan.
Pengawasan di tingkat lingkungan dinilai menjadi bagian penting dalam memutus mata rantai peredaran obat yang menyasar kalangan remaja.
Dengan deteksi dini di sekolah serta pengawasan ketat di lingkungan masyarakat, pemerintah berharap penyalahgunaan obat di kalangan pelajar dapat ditekan dan generasi muda Jawa Barat dapat terlindungi dari ancaman ketergantungan sekaligus dampak kriminalitas.
KDM Wacanakan Tes Urine Massal Siswa SMA/SMK se-Jawa Barat, Pelajar Kecanduan Obat Bakal Direhabilitasi

───────────────────────────────────











