Lioutakpk.com, Kalbar -Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan tingkat pengangguran Indonesia akan mencapai 5 persen pada tahun 2025. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi ketiga tertinggi di Asia setelah China dan India. Proyeksi ini menjadi sorotan karena meskipun Indonesia tergolong sebagai negara dengan ekonomi terbesar di kawasan Asia Tenggara, persoalan pengangguran masih menjadi tantangan besar yang belum terselesaikan secara tuntas.
Salah satu penyebab utama dari tingginya pengangguran adalah ketidakpastian ekonomi global. Konflik geopolitik dan perang dagang, khususnya antara Amerika Serikat dan China, berdampak langsung terhadap negara-negara berkembang seperti Indonesia. Ketegangan dagang ini menyebabkan lesunya ekspor dan penurunan investasi asing, dua sektor yang selama ini berkontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja.
Di sisi domestik, struktur ekonomi Indonesia masih belum sepenuhnya ramah terhadap penyerapan tenaga kerja. Sektor-sektor padat karya seperti industri tekstil, alas kaki, dan manufaktur sedang menghadapi tekanan berat. Permintaan global yang melemah, tingginya harga bahan baku, serta ketergantungan terhadap impor komponen membuat industri-industri ini tidak bisa berkembang optimal, bahkan cenderung mengalami penurunan produktivitas.
Efisiensi yang dilakukan oleh pelaku industri juga berkontribusi terhadap meningkatnya pengangguran. Banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk mengurangi biaya operasional. Di tengah situasi tersebut, banjirnya produk impor turut memperparah kondisi karena produk lokal kalah bersaing, terutama dari sisi harga dan ketersediaan barang di pasar.
Selain itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi juga menjadi faktor penting. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat menjadi 4,87 persen pada triwulan I 2025. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, dan stagnasi konsumsi rumah tangga menjadi salah satu penyebab utama. Padahal, konsumsi rumah tangga merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Masalah lainnya adalah ketidaksesuaian antara keterampilan pencari kerja dengan kebutuhan industri. Banyak lulusan baru tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja saat ini, terutama dalam bidang teknologi, digital, dan manufaktur modern. Hal ini menyebabkan pengangguran terbuka tetap tinggi meskipun ada peluang kerja di sektor-sektor tertentu.
Pemerintah telah merespons dengan berbagai program pelatihan vokasi, insentif bagi industri padat karya, dan kebijakan perlindungan pasar domestik. Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi kendala, mulai dari birokrasi, keterbatasan anggaran, hingga minimnya sinergi antara pusat dan daerah. Untuk menurunkan pengangguran secara signifikan, dibutuhkan kebijakan yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Ke depan, Indonesia harus fokus pada penciptaan lapangan kerja yang berkualitas, peningkatan daya saing industri lokal, serta transformasi pendidikan dan pelatihan kerja. Investasi pada sektor ekonomi digital dan ekonomi hijau juga bisa menjadi peluang baru dalam menyerap tenaga kerja. Jika tidak segera diatasi, tingkat pengangguran yang tinggi bisa menghambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan memperlebar kesenjangan (Mulyadi)












