Rakyat Butuh Solusi, Bukan Sekadar Monumen! Sampah Menumpuk, Jalan Rusak, Jembatan Maut Terus Makan Korban!”

NEWS UPDATE
LIPUTAN
KPK .COM
P T .S U A R A W A R T A N U S A N T A R A
S W N
───────────────────────────────────

 

Antara Monumen Kebanggaan dan Masalah yang Terabaikan: Warga Probolinggo Menunggu Solusi Nyata”

Probolinggo — Warga di berbagai kecamatan di Kabupaten Probolinggo mulai mempertanyakan keseriusan pemangku kebijakan dalam menangani persoalan dasar lingkungan. Salah satu yang paling terasa adalah minimnya fasilitas tempat sampah di tingkat kecamatan. Kondisi ini memicu kebiasaan buang sampah sembarangan yang kian meluas, bukan karena masyarakat tak peduli, melainkan karena kurangnya sarana yang memadai.

“Kalau tempat sampah saja sulit ditemukan, lalu masyarakat harus buang ke mana?” ujar salah satu warga, menyuarakan keresahan yang semakin sering terdengar.

Di sisi lain, perhatian pemerintah justru tampak lebih condong pada pembangunan simbolis. Monumen kebanggaan di kawasan Kraksaan memang menjadi ikon baru, namun ironisnya, di balik kemegahannya tersimpan persoalan serius yang belum terselesaikan. Jembatan Semampir yang menjadi akses vital hingga kini masih dipertahankan dengan satu jalur, padahal kebutuhan lalu lintas sudah jelas menuntut dua jalur.

Akibatnya, kecelakaan demi kecelakaan terus terjadi, memakan korban tanpa adanya langkah konkret yang signifikan. Banyak pihak menilai sudah saatnya dilakukan kajian ulang secara serius untuk mencari solusi terbaik, sebelum korban terus bertambah.

Tak hanya itu, sorotan juga tertuju pada wilayah Pakuniran. Aktivitas tambang di sungai setempat dinilai kurang mendapat pengawasan tegas. Dampaknya mulai terasa: jalan yang sebelumnya telah diperbaiki kini kembali rusak, diduga akibat lalu lintas kendaraan berat dari aktivitas tambang.

Masyarakat pun mempertanyakan sikap aparat setempat. “Kalau tidak ada ketegasan, yang dirugikan tetap warga. Jalan rusak, lingkungan terdampak,” ungkap seorang tokoh masyarakat.

Desakan pun menguat agar dilakukan evaluasi ulang terhadap perizinan tambang, termasuk kesepakatan lingkungan yang seharusnya menjadi dasar utama dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian.

Berbagai persoalan ini seolah menjadi pengingat bahwa pembangunan bukan hanya soal simbol dan proyek besar, tetapi juga tentang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Warga berharap, ke depan ada langkah nyata—bukan sekadar wacana—demi terciptanya lingkungan yang lebih tertata, aman, dan berkelanjutan.

Penulis : Holik

Editor : A,M

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *