Tapanuli Selatan, liputankpk.com – Dugaan kasus pembunuhan yang menimpa Abdul Rahma Giawa pada 1 Agustus 2022 di Kelurahan Tapian Nauli, Angkola Selatan, Sumatera Utara, kembali menjadi sorotan publik.
Terduga pelaku, Sojanolo Hia, telah membuat video pengakuan yang menyatakan bahwa dirinya melakukan pembunuhan atas suruhan beberapa anggota keluarga korban.
Redaksi Liputankpk.com telah memegang video tersebut sebagai bukti, sementara konfirmasi langsung hanya dilakukan kepada Ketua RT setempat, SH Nduru. Saat dikonfirmasi terkait kebenaran peristiwa itu, SH Nduru menjawab, “itu memang betul gassss trussss tatu tatu nanti.”
Meski pengakuan dari terduga pelaku melalui video dan konfirmasi RT sudah ada, hingga kini proses hukum belum berjalan, dan muncul dugaan keterlibatan oknum aparat di tingkat kelurahan. Pihak keluarga korban sebelumnya menyerahkan surat keterangan “hilang” terkait Abdul Rahma Giawa, yang menurut beberapa warga diduga digunakan untuk menutupi fakta sebenarnya.
Seorang warga yang aktif menelusuri kasus ini, A.Z. Hulu, menegaskan bahwa pengakuan RT dan video terduga pelaku menunjukkan perlunya langkah serius dari aparat penegak hukum. “Sudah ada bukti pengakuan yang jelas, tapi hingga kini belum ada tindakan nyata dari pihak berwenang,” ujarnya.
Menyikapi kondisi ini, warga setempat mendesak Kapolri turun tangan langsung untuk memastikan kasus ini diusut tuntas. Penanganan kasus oleh Kapolres setempat selama 4 tahun kini dipertanyakan publik, karena pengakuan pelaku dan konfirmasi RT telah ada sejak lama, tetapi belum ada penangkapan maupun penyelidikan yang terlihat.
Kasus ini menyoroti pentingnya integritas aparat penegak hukum dan transparansi dalam menangani dugaan tindak pidana berat, agar masyarakat tetap yakin hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.
“Kapolri harus memastikan proses hukum berjalan adil dan cepat. Masyarakat berhak mengetahui kebenaran dan mendapatkan keadilan,” kata A.Z. Hulu.
Dengan bukti video pengakuan terduga pelaku dan konfirmasi dari RT SH Nduru, kasus ini kini berada pada titik kritis. Publik menuntut agar aparat segera mengambil langkah tegas, mengungkap fakta, dan mencegah pembiaran dugaan tindak pidana serius.
Laporan: Asa Ziduhu Hulu












