Kota Bogor, Jawa Barat || LiputanKPK.com
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali meningkat. Gunung api yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan itu tercatat mengalami sejumlah erupsi pada Jumat (4/9/2026), di tengah status Level III atau Siaga.
Berdasarkan laporan pengamatan Pos Gunungapi Anak Krakatau, tiga erupsi terjadi pada pukul 04.11 WIB, 04.19 WIB, dan 04.28 WIB. Meski tidak seluruh letusan teramati secara visual, aktivitas tersebut terekam instrumen seismograf dengan amplitudo maksimum masing-masing 33 milimeter, 60 milimeter, dan 70 milimeter.
Erupsi kembali terjadi pada pukul 05.46 WIB. Kali ini, kolom abu teramati secara visual mencapai sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 457 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu berwarna hitam dengan intensitas tebal dan teramati bergerak ke arah barat hingga barat laut. Erupsi tersebut berlangsung sekitar 27 detik.
Aktivitas Magma Masih Tinggi
Peningkatan aktivitas tersebut menjadi perhatian karena dinamika magma di Gunung Anak Krakatau masih tinggi.
BPBD Lampung Selatan, berdasarkan evaluasi Badan Geologi periode 22–31 Agustus 2026, menyebut probabilitas terjadinya erupsi susulan masih tergolong tinggi.
Pada periode tersebut tercatat 174 kali gempa letusan/erupsi, 714 gempa hembusan, 336 gempa low frequency, 32 gempa harmonik, 851 gempa hybrid/fase banyak, serta 30 kali tremor menerus.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih harus dipantau secara ketat.
Warga Diminta Tidak Mendekat
PVMBG telah mengimbau masyarakat, nelayan, pengunjung, dan wisatawan untuk tidak mendekati kawasan kawah aktif dalam radius 3 kilometer.
Imbauan tersebut terutama ditujukan untuk mengantisipasi bahaya langsung dari aktivitas erupsi, termasuk lontaran material vulkanik.
Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai video atau informasi yang beredar di media sosial apabila belum dipastikan berasal dari sumber resmi.
Erupsi Tidak Otomatis Berarti Tsunami
Kewaspadaan terhadap potensi tsunami memang penting mengingat sejarah Gunung Anak Krakatau pada 2018. Namun, erupsi Gunung Anak Krakatau tidak otomatis berarti akan terjadi tsunami.
PVMBG sebelumnya menegaskan bahwa potensi tsunami harus dilihat berdasarkan kondisi dan mekanisme tertentu, seperti adanya longsoran material gunung api ke laut.
Karena itu, masyarakat pesisir Banten dan Lampung Selatan tidak perlu panik, tetapi harus tetap siap menghadapi perkembangan situasi.
Warga diminta terus mengikuti informasi resmi PVMBG, Badan Geologi, BMKG, BPBD, serta pemerintah daerah.
Jangan mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau, jangan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, dan segera mengikuti instruksi petugas apabila terjadi perubahan status atau peringatan resmi.
Aktivitas vulkanik masih tinggi. Waspada, tetapi jangan panik.
Anak Krakatau Mengamuk Lagi! Selat Sunda Diguncang Erupsi, Banten-Lampung Harus Siaga!

───────────────────────────────────











