Aksi Demo di Aceh Singkil: Mahasiswa Desak Relokasi PT Socfindo, Karyawan Pasang Badan Pertahankan Sumber Nafkah Turun-Temurun

NEWS UPDATE
LIPUTAN
KPK .COM
P T .S U A R A W A R T A N U S A N T A R A
S W N
───────────────────────────────────

ãAceh Singkil, | Liputankpk.com ~ Suasana tegang menyelimuti gerbang utama PT Socfindo Kebun Lae Butar di Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, menyusul aksi unjuk rasa mahasiswa yang menuntut relokasi pabrik dan penghentian penanaman kelapa sawit di sempadan sungai. Di sisi lain, r

Sejumlah karyawan perusahaan bersatu padu pasang badan, menegaskan keberadaan PT Socfindo sebagai urat nadi ekonomi yang telah menghidupi mereka secara turun-temurun.

Aksi damai yang berlangsung pada Senin 8 September 2025. diawali dengan orasi bergantian dari para perwakilan mahasiswa. Mereka menyuarakan kekhawatiran serius terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh operasional pabrik yang berdekatan dengan pemukiman warga. “Kami meminta manajemen PT Socfindo untuk segera memindahkan lokasi pabrik demi kesehatan dan keselamatan masyarakat. Selain itu, penanaman sawit di sempadan sungai harus dihentikan karena mengancam kelestarian ekosistem dan berpotensi memicu bencana,” tegas salah seorang orator mahasiswa.

Namun, tuntutan mahasiswa ini mendapat respons langsung dari para karyawan PT Socfindo yang turut menyaksikan jalannya aksi. Dengan nada emosional namun tegas, seorang karyawan senior yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan keberatannya. “Kami sudah bekerja di sini dari nenek moyang kami hingga saat ini, dari kebun karet hingga kebun kelapa sawit. Perusahaan ini telah memberi banyak manfaat bagi keluarga kami. Banyak anak-anak kami berhasil menjadi PNS, TNI, Polisi, pedagang, bahkan pejabat tinggi berkat perusahaan ini. Tolong, Adik-adik mahasiswa, jangan ganggu sumber kehidupan kami,” pintanya, disambut anggukan dari rekan-rekan kerjanya.

Berdasarkan data investigasi, PT Socfindo Kebun Lae Butar, yang telah beroperasi sejak tahun 1938, saat ini mempekerjakan sedikitnya ribuan karyawan. Perusahaan yang awalnya mengelola karet ini telah bertransformasi menjadi perkebunan kelapa sawit, menjadi salah satu pilar ekonomi penting bagi masyarakat sekitar.

Ironisnya, beberapa unjuk rasa sebelumnya yang mengatasnamakan masyarakat menunjukkan adanya kejanggalan. Meskipun surat izin aksi mencantumkan jumlah massa hingga 2.000 orang, kenyataannya peserta yang hadir tidak pernah lebih dari 50 orang. Bahkan, warga sekitar menegaskan tidak pernah bergabung dalam aksi-aksi tersebut, menunjukkan adanya potensi manipulasi klaim dukungan massa.

Seorang karyawan PT Socfindo lainnya turut menegaskan kontribusi sosial perusahaan. “Kami tidak ikut demo karena perusahaan ini sangat membantu masyarakat, mulai dari pembersihan sampah, bantuan kepada warga miskin, hingga penyediaan air gratis untuk pesta warga. Kami menghormati hak mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi, tapi mohon dilakukan secara aman, tertib, dan damai,” ungkapnya.

Pihak karyawan bersama warga turut mengapresiasi kesigapan aparat TNI-Polri dan Satpol PP yang berjaga ketat di lokasi, memastikan unjuk rasa tetap berjalan aman, damai, dan kondusif. Aksi mahasiswa, yang sempat diguyur hujan deras dan hanya diikuti sekitar 30 orang, akhirnya membubarkan diri dengan tertib setelah menyampaikan tuntutannya. Ketegangan antara tuntutan lingkungan dan keberlanjutan ekonomi ini menyisakan pekerjaan rumah bagi semua pihak untuk mencari solusi yang adil dan berkelanjutan.{*}

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *